Panas Gandong  Rutong-Rumahkay Jadi Contoh Untuk Maluku

Panas Gandong Rutong-Rumahkay Jadi Contoh Untuk Maluku

Maret 18, 2020 0 By admin

AMBON,FM,- Panas Gandong dua negeri kakak beradik yakni Rumahkay dan Rutong dijadikan contoh untuk Maluku, terutama sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan leluhur yang sudah lama terbentuk.

Dalam acara adat di Baileo Negeri Rutong, Penjabat Negeri Rumahkay
Morits Akerina menjelaskan, momentum pemanasan gandong yang terjadi saat ini mestinya dimaknai sebagai salah satu
bentuk mempererat hubungan adik dan kakak. Bahkan membentuk masyarakat sebagai anak-anak adat untuk terus menghormati, menghargai dan mewariskan nilai-nilai leluhur, adat-istiadat yang sudah tertanam dan terbangun dari nenek moyang. agar sebagai generasi muda dapat terus mempertahankannya dengan baik sebagai sebuah investasi terbesar.

“Ini sebuah moment pererat hubungan tali persaudaraan hubungan adik dan kakak. sehingga menjadi contoh dan teladan di Maluku tetapi juga secara nasional,” ungkap Akerina.

Wali kota Ambon, Richard Louhenapessy dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan, Rico Hayat menyatakan, teknologi yang semakin modern seringkali membawa kecenderungan masyarakat melupakan nilai-nilai budaya dan adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Salah satunya adalah budaya gandong yang merupakan sistem hubungan kekerabatan adik dan kakak antara dua negeri dari satu gandong atau keturunan yang sama.

Panas gandong dua negeri adat akan menjadi contoh untuk negeri adat lainnya, dalam sebuah hubungan yang rukun, toleran, selaras, serasi serta
harmonis.

Implementasi huibungan ini diharapkan akan memberikan dampak positif bagi pengembangan kualitas SDM antar kedua negeri serta menjadi suatu kegiatan yang bernilai positif bagi
seluruh anak cucu Rutong dan Rumakay.

Sementara itu, Raja Negeri Rutong, Reza Maspaitella kepada wartawan menjelaskan, panas gandong yang dilakukan oleh saudara kakak dari Rumahkay dan Adik dari Rutong adalah agenda yang dilakukan selama lima tahun sekali, dan telah bermula sejak tahun 1939 silam secara bergantian.

“Panas gandong ini sudah terjalin lama sejak 1939 silam, dan kita lakukan selama lima tahun sekali dan dilakukan secara bergantian pada dua negeri,” ucap Maspaitella.

Lambang hubungan dua Kaka beradik yang memiliki arti hubungan kasih, karena itu pola kasih yang telah dicontohkan oleh para leluhur dapat senantiasa hidup ditengah masyarakat adik kakak. Sehingga dengan dasar kasih inilah kita bisa memberikan dampak yang baik bagi pembangunan di dalam negeri baik dalam konteks pembangunan Sumber Daya Manusia, bahkan pembangunan fisik.

“Panas gandong ini adalah bukti nyata kita menghormati budaya dan adat, karena itu kita percaya Tuhan akan selalu menjaga dan melindungi kita, meskipun keadaan saat ini yang membuat kita gelisah, fokus kita hanya pada Tuhan,pasti kita dijaga dan dipelihara.bahkan dari kasih jugalah dapat terus dijadikan contoh bukan hanya bagi Maluku tetapi juga Indonesia,” demikian Maspaitella.(FM-04)