Maret 2026, Provinsi Maluku Mengalami Deflasi 0,75 Persen
April 2, 2026AMBON, fokusmaluku.com- Plt.Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Dhita Aditya Nugraha dalam keterangannya resminya kepada awak media Kamis (02/04/2026) menyebutkan, memasuki Maret 2026, Provinsi Maluku mengalami deflasi sebesar 0,75% (mtm), berbalik arah dibandingkan Februari 2026 yang mencatat inflasi sebesar 0,58% (mtm).
Secara spasial, deflasi terutama bersumber dari Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon yang masing-masing mencatat deflasi sebesar 1,40% (mtm) dan 0,43% (mtm). Namun demikian, deflasi yang lebih dalam tertahan oleh realisasi inflasi di Kota Tual sebesar 0,37% (mtm).
Secara tahunan, inflasi Provinsi Maluku tercatat sebesar 3,40% (yoy), masih berada dalam rentang sasaran target inflasi nasional sebesar 2,5±1% (yoy). Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 5,97% (yoy), serta sedikit di bawah tingkat inflasi nasional sebesar 3,48% (yoy).
Capaian deflasi bulan ini utamanya bersumber dari Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau dan kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil inflasi (mtm) masing-masing sebesar 0,73% dan 0,03%.
Deflasi pada kelompok ini terutama disumbang oleh penurunan harga komoditas perikanan a.l.: Ikan Layang, Ikan Selar, Ikan Tongkol, dan Ikan Cakalang dengan andil deflasi (mtm) masing-masing sebesar 0,36%, 0,23%, 0,16%, dan 0,12%.
Penurunan harga komoditas perikanan tersebut didukung oleh kondisi meteorologi maritim yang relatif kondusif sehingga mendorong peningkatan produksi perikanan.
Selain itu juga dipengaruhi oleh intervensi pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan ikan tangkap, serta pelaksanaan intervensi pasar yang dilakukan melalui penjualan ikan beku pada harga yang lebih rendah dibandingkan harga ikan segar.
Sementara itu, realisasi deflasi yang lebih dalam juga dipengaruhi oleh Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, dipengaruhi oleh harga emas yang mengalami penurunan di pasar internasional. (**)


