Komoditi Bahan Makanan Beras Penyumbang Terbesar Garis Kemiskinan Maluku

Januari 15, 2019 0 By admin

AMBON, FM.- Komoditi makanan, yakni Beras menjadi komoditi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan di Maluku pada September 2018.
demikian diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik ( BPS) Provinsi Maluku,
Dumangar Hutauruk saat melakukan release profil kemiskinan Provinsi Maluku, diruang rapat kantor dimaksud, Selasa (15/01/2018)

Dalam release tersebut, Hutauruk menyatakan, komoditi bahan makanan beras di kota berbeda dengan di Desa, yang mana untuk kota sekitar 24,89 persen.
Sementara di Desa sebesar 22,91 persen, disusul oleh sembilan bahan makanan
lainnya diantaranya: rokok filter di kota mencapai 10,06 persen, sementara di desa mencapai 9,71 persen,bahan makanan roti di kota menyumbang 6,04 persen,
sementara di desa 9,84 persen sedangkan komoditi ikan tongkol/ tuna/cakalang di kota menyumbang sebesar 3,65 persen dan di desa sebesar 3,70 persen, susu bubuk dikota mencapai 2,80 perse dan di desa ketela pohon mencapai 4,01 persen.ditambah lagi dengan komoditi Gula pasir di kota sebesar 2,58 persen dan di desa sebesar 3,56 persen, disusul dengan mie instan 2,08 persen dan di desa 1,83
persen, kembung dikota sebesar 2,04 persen, dan di desa mencapai 1,54 persen. sementara di desa mencapai 1,83 persen, telur ayam ras di kota mencapai 1,92 persen, daun ketela pohon di desa mencapai 1,69 persen ditutup dengan bawang merah dikota sebesar 1,90 persen dan di desa sebesar 2,02 persen. dari hasil
tersebut dapat diketahui secara jelas jumlah komoditi di Desa adalah penyumbang garis kemiskinan terbesar yakni 60, 82 poersen bila dibandingkan dengan kota yang mencapai 57,96 persen.

Dikatakan Hutauruk, komoditi bukan bahan makanan yang memberi sumbangan besar rerhadap garis kemiskinan di kota dan desa dari total sepuluh item ternyata perumahan yang mendominasi yakni sebesar 10,20 persen di kota sementara perumahan di desa mencapai 11,09 persen.

Disusul dengan Angkutan dikota sebesar 2,34 persen, listrik sebesar 2,17 persen,
Minyak tanah 1,88 persen, perlengkapan mandi di kota mencapai 1,48 persen, Bensin 1,27 persen, pendidikan 0,99 persen, Air 0,68 persen, pakaian jadi anak-anak, 0,67 persen dan perawatan kulit muak, kuku rambut mencapai 0,55 persen. berbeda dengan di desa, Kayu bakar hanyalah 1,22 persen, perlengkapan mandi 1,03 persen,
sabun cuci 0,94, listrik 0,93, minya tanah 0,78, pakaian jadi anak-anak 0,66, bensin
0,57, angkutan 0,53, perawatan kulit, muka, kuku dan rambut mencapai 0,60 persen.
Lebih jauh Hutauruk menyatakan, Garis kemiskinan sangat mempengaruhi besar
kecilnya jumlah penduduk miskin disuatu daerah termasuk di Maluku.

Selama Maret hingga September 2018, lanjut Hutauruk, garis kemiskinan Maluku naik sebesar 3,88 persen yaitu dari Rp. 456.457,- perkapita per bulan pada Maret 2018 menjadi Rp. 474.173,- perkapita perbulan pada September 2018.
“September 2018, sumbangan Garis kemiskinan Maluku terhadap garis kemiskinan sebesar 76,17 persen,” akuinya

Lebih jauh Dia menjelaskan, secara umum nilai garuis kemiskinan yang digunakan sebagai dasar penenuan status kemiskinan penduduk di Maluku pada September 2018 sebesar Rp.474.173,- yang berarti, untuk memenuhi kebutuhan dasar 2100 kkal makanan per hari dan pengeluaran dasar non makanan dalam satu bulan per jiwa
di Maluku dibutujkan uang sekitar Rp.474. 173,- dengan demikian, penduduk dengan jumlah pengeluaran per bulan dibawah garis kemiskinan tersebut tergolong miskin. (FM-07)