Aksi Ngamuk Aleg DPRD kota Ambon, tanggapi Sikap Wakil Pimpinan Rustam Latupono

Aksi Ngamuk Aleg DPRD kota Ambon, tanggapi Sikap Wakil Pimpinan Rustam Latupono

Oktober 13, 2021 0 By admin

AMBON, FM, – Sikap arogansi yang ditunjukan oleh Wakil Ketua DPRD kota Ambon, Rustam Latupono malah ditanggapi serius oleh Salah satu wakil rakyat asal partai Nasional Demokrat ( Nasdem) kota Ambon.

Mota sapaan akrab Morits Tamaela mengamuk di Gedung DPRD lantaran sempat beradu argumen keras dengan Waka Rustam Latupono tepat usai rapat pembahasan Pra APBD di ruang paripurna.

Saat ini di pojok ruangan antara gedung B dan gedung baru terlihat Mota sedang berbincang bersama Yusuf Wally anggota komisi III DPRD, bertepatan juga Waka Rustam melintas pojok gedung yang sama, Mota nampak sedang menyampaikan pendapatnya terkait dengan surat yang ditandatangani oleh 20 anggota DPRD kota Ambon yang isi suratnya meminta agar pimpinan membuat rapat paripurna internal untuk membahas hal-hal yang selama ini dirasakan perlu untuk dibahas.

Namun sayangnya pendapatnya itu justru ditanggapi Waka Rustam dengan nada suara yang kasar, adu mulutpun terjadi sehingga membuat pegawai berhamburan keluar untuk melihatnya.

Dalam perdebatan itu, Waka Rustam sempat melotarkan kalimat “jangan ngotot karena kepentingan pribadi, surat itu tidak perlu ditanggapi karena tidak ada dalam Tata Tertib DPRD kota Ambon” Persetan dengan itu”masa bodoh”

Atas kalimat itu, membuat Mota naik Pitam dan akhirnya mengamuk, tong sampah aliminium yang ada di depan ruang sidang ditendangnya dan mengaku akan membuka secara terang-terangan kepada publik persoalan yang terjadi di lembaga terhormat itu agar diketahui publik secara luas.

Saat diminta keterangan, Mota mengaku kesal dengan jawaban yang dilontarkan oleh salah satu pimpinan DPRD itu, baginya, bukan soal Tatib melainkan soal kebersamaan, kolektif, kologial di dalam lembaga.

Menurut Tamaela, rapat internal yang dilakukan itu wajib guna membahas secara internal yang perlu dievaluasi termasuk hal yang menjadi kegelisahan kita.

“Kita masih memilih jalur persuasif untuk meminta pimpinan menjembatani hal ini tetapi faktanya adalah pimpinan hanya mengarahkan ketua-ketua fraksi untuk rapat dan membahas hal-hal tertentu, inikan upaya menghindar dari apa yang kita inginkan.

Prinsipnya adalah masalah di dalam lembaga ini harus diselesaikan secara arif dan bijaksana dalam bingkai kebersamaan dan kekeluargaan namun jika upaya persuasif yang dilakukan justru tak digubris pimpinan ya lebih baik kita buka-bukaan saja tentang semua masalah yang terjadi di lembaga ini termasuk sikap pimpinan yang seenaknya saja menentukan keputusan semaunya dan tidak adil dalam lembaga. (FM-07)