OJK Mencatat Hingga Februari 2026, Kredit Perbankan Tumbuh Sebesar 9,37 Persen
Mei 6, 2026AMBON,fokusmaluku.com- Otoritas Jasa Keuangan memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi tensi geopolitik di kawasan Teluk.
Hal tersebut disampaikan dalam hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 1 April 2026.
Dalam laporannya, OJK menilai dinamika global saat ini memberi tekanan serius terhadap stabilitas ekonomi dunia, terutama setelah terganggunya operasional infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi energi global.
Kondisi tersebut memicu lonjakan harga energi dunia dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Meski demikian, sektor perbankan nasional dinilai masih menunjukkan ketahanan yang kuat dengan pertumbuhan intermediasi yang tetap positif serta profil risiko yang terjaga.
OJK mencatat, hingga Februari 2026, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,37 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp.8.559 triliun. Meski sedikit melambat dibanding Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen yoy, pertumbuhan kredit masih ditopang kuat oleh sektor investasi dan korporasi.
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 20,72 persen. Sementara Kredit Konsumsi tumbuh sebesar 6,34 persen dan Kredit Modal Kerja sebesar 3,88 persen.
Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan paling tinggi yakni sebesar 14,74 persen yoy.
Sedangkan berdasarkan kepemilikan bank, kredit yang disalurkan bank-bank BUMN tumbuh paling besar dengan capaian 12,78 persen yoy.
Tren penggunaan layanan keuangan digital juga terus meningkat.
Produk kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan tercatat tumbuh signifikan. Hingga Februari 2026, baki debet kredit BNPL mencapai Rp27,8 triliun atau tumbuh 26,41 persen yoy, lebih tinggi dibanding Januari 2026 yang tumbuh 20,15 persen yoy.
Jumlah rekening BNPL pun mencapai 30,55 juta rekening.Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan performa positif. Per Februari 2026, DPK tumbuh sebesar 13,18 persen yoy menjadi Rp.10.102 triliun.
Pertumbuhan tertinggi berasal dari giro yang naik 18,56 persen yoy, diikuti deposito sebesar 13 persen yoy dan tabungan sebesar 8,12 persen yoy.
OJK juga memastikan kondisi likuiditas industri perbankan nasional masih berada pada level yang memadai, mencerminkan ketahanan sektor keuangan domestik dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang semakin dinamis.
Dengan capaian tersebut, sektor perbankan Indonesia dinilai masih mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mempertahankan stabilitas di tengah bayang-bayang ketidakpastian global yang terus meningkat. (**)


