Monev H90 Gebrak Stunting Catat Kemajuan Gizi dan Pengetahuan Masyarakat serta Perkuat Kolaborasi Pentaheliks

Monev H90 Gebrak Stunting Catat Kemajuan Gizi dan Pengetahuan Masyarakat serta Perkuat Kolaborasi Pentaheliks

Oktober 8, 2026 0 By admin

AMBON, fokusmaluku.com- Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Ambon mengevaluasi capaian pendampingan 90 hari melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Akhir H90 Program Gebrak Stunting pada Selasa (6/10/2026), di Aula Pertemuan Puskesmas Rijali, Kota Ambon. Hasil pemantauan mencatat kenaikan berat dan panjang atau tinggi badan balita serta peningkatan pengetahuan komunitas. Capaian tersebut menjadi dasar untuk memperkuat tindak lanjut peserta dan mengembangkan kolaborasi dalam penanganan stunting di Maluku.

Gebrak Stunting, Gerakan Bersama Kurangi Stunting, menghubungkan pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi gizi dan keamanan pangan, peningkatan kapasitas kader, serta pemantauan berkala. Program tahun 2026 menyasar 12 balita stunting dan delapan ibu hamil berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Negeri Batu Merah dan Kelurahan Pandan Kasturi, dalam wilayah kerja Puskesmas Rijali.

Forum monev menjadi ruang pelaporan hasil kepada para kolaborator dan penyusunan arah keberlanjutan program. Dukungan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Masyarakat Sekretariat Daerah Provinsi Maluku diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk pengembangan Gebrak Stunting sebagai salah satu calon pilot project model kolaborasi pentaheliks yang dapat direplikasikan secara bertahap di kabupaten lain di Maluku.

Pemantauan dilakukan pada H0, H30, H60, dan H90. Dibandingkan pengukuran awal pada peserta yang sama, rata-rata berat balita bertambah 0,28 kilogram pada H30, 0,37 kilogram pada H60, dan 0,88 kilogram pada H90. Rata-rata panjang atau tinggi badan bertambah masing-masing 0,69 sentimeter, 1,77 sentimeter, dan 2,27 sentimeter. Perbandingan H30 menggunakan 12 pasangan data, sedangkan H60 dan H90 menggunakan 11 pasangan data.

Perkembangan juga tercatat pada indikator wasting, yaitu kondisi berat badan rendah menurut panjang atau tinggi badan. Wasting ditemukan pada tujuh dari 12 balita saat pengukuran awal dan satu dari 11 balita pada H90. Meski demikian, seluruh 11 balita yang diukur pada H90 masih memenuhi indikator stunting berdasarkan tinggi menurut umur. Kenaikan berat badan perlu diikuti pemantauan pertumbuhan linear, penguatan praktik pemberian makan, dan penilaian kondisi kesehatan setiap anak.

Pada lima ibu hamil dengan data berpasangan hingga H90, catatan menunjukkan kenaikan rata-rata berat sebesar 6,78 kilogram dan lingkar lengan atas (LILA) sebesar 2,02 sentimeter. Empat dari lima ibu mencapai LILA sekurang-kurangnya 23,5 sentimeter, sementara seorang masih berada di bawah ambang risiko KEK tersebut. Hasil ini masih memerlukan verifikasi sejumlah catatan pengukuran dan penilaian sesuai usia kehamilan. Tiga ibu tanpa data H90 belum dapat dinilai status akhirnya.

Edukasi komunitas menunjukkan peningkatan skor pengetahuan pada 20 catatan pretest dan posttest berpasangan. Rata-rata skor total meningkat dari 51,50 menjadi 88,00, atau bertambah 36,50 poin. Peningkatan meliputi pengetahuan higiene dan bahaya pangan, pemilihan serta penanganan pangan, dan gizi, stunting, serta pengasuhan. Hasil tes setelah edukasi ini perlu ditindaklanjuti dengan pendampingan agar pengetahuan diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Capaian pemantauan memperlihatkan kemajuan pada sejumlah indikator selama program berlangsung. Namun, kelompok peserta yang kecil, belum adanya kelompok pembanding, serta kelengkapan dan mutu catatan membatasi penarikan kesimpulan tentang dampak program. Hasil evaluasi menjadi bahan perbaikan layanan dan pendampingan, serta tidak menggambarkan penurunan prevalensi stunting di tingkat Provinsi Maluku.

BPOM di Ambon menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku dan Kota Ambon, Puskesmas Rijali, Pemerintah Negeri Batu Merah, serta Kelurahan Pandan Kasturi. Penghargaan juga ditujukan kepada tenaga kesehatan, kader, dan keluarga peserta yang mendukung pelaksanaan pendampingan dan pemantauan berkala.

Kolaborasi turut melibatkan perguruan tinggi dan organisasi profesi, antara lain STIKes Prof. Dr. J. A. Latumeten, STIKes Maluku Husada, Universitas Pattimura melalui Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri AMSA, Institut Agama Kristen Negeri Ambon, dan Ikatan Apoteker Indonesia Provinsi Maluku. Para mitra diharapkan terus memperkuat edukasi, kapasitas kader, pengembangan pangan lokal, dan evaluasi ilmiah.

Apresiasi juga disampaikan kepada Bank Syariah Indonesia Regional Maluku sebagai penyandang dana, Human Initiative Provinsi Maluku, Dompet Dhuafa Maluku, Bank Negara Indonesia KCU Ambon, Kantor Pemenuhan Gizi Provinsi Maluku, SPPG Polda Maluku, dan SPPG Batu Merah Galunggung. Keberlanjutan kemitraan diharapkan mendukung pendampingan keluarga serta penyediaan pangan bergizi dan aman sesuai peran dan kemampuan masing-masing.

Pengembangan pilot project diarahkan pada pembagian peran yang jelas antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Replikasi perlu didukung sasaran yang terukur, kesiapan layanan, sumber daya, standar pengukuran, serta evaluasi yang lebih kuat. Pelaksanaannya juga perlu menyesuaikan kondisi kepulauan, akses layanan, dan ketersediaan pangan lokal di setiap kabupaten.

Melalui Monev H90, Gebrak Stunting diarahkan untuk melanjutkan pemantauan peserta yang masih berisiko, memperkuat edukasi keluarga, serta meningkatkan mutu pencatatan dan keamanan pangan. Kolaborasi yang berkelanjutan diharapkan menjadikan inovasi ini sebagai model pembelajaran bersama untuk mendukung upaya penurunan stunting di Maluku (IT).

Mari dukung pertumbuhan anak dan kesehatan ibu melalui pangan yang aman dan bergizi. Terapkan CEK KLIK—Cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa—sebelum membeli atau mengonsumsi pangan olahan.