Antara Aman, Nyaman, dan Cinta pada “Mitan”,
Oktober 29, 2026AMBON, fokusmaluku.com- Di tengah dorongan transisi energi menuju bahan bakar yang lebih modern, minyak tanah atau yang akrab disebut masyarakat Maluku sebagai “mitan” masih menjadi pilihan utama sebagian besar warga Kota Ambon. Bukan sekadar bahan bakar untuk memasak, mitan telah melekat dalam kebiasaan hidup masyarakat karena dianggap lebih familiar dan nyaman digunakan.
Kebiasaan yang berlangsung selama bertahun-tahun, kekhawatiran menggunakan LPG, hingga kebutuhan nelayan menjadi sejumlah faktor yang membuat minyak tanah tetap diminati masyarakat.
Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ambon, Patto Hahijary, menjelaskan sebagian masyarakat masih merasa lebih nyaman menggunakan minyak tanah dibandingkan LPG, terutama tabung berukuran tiga kilogram.
“Sebagian besar masyarakat kita sudah terbiasa menggunakan minyak tanah. Kebiasaan ini sudah berlangsung lama, sehingga minyak tanah masih menjadi pilihan yang dirasakan lebih nyaman oleh masyarakat,” jelas Patto saat ditemui di ruang kerjanya.
Ketergantungan terhadap minyak tanah tidak hanya terjadi di rumah tangga. Bahan bakar ini juga masih dibutuhkan nelayan untuk menunjang aktivitas mereka, terutama saat melaut.
Menurut Patto, penggunaan minyak tanah oleh nelayan turut memengaruhi tingginya kebutuhan bahan bakar tersebut di Maluku. Bagi masyarakat pesisir, ketersediaan mitan berkaitan erat dengan kebutuhan sehari-hari sekaligus keberlangsungan mata pencaharian.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peralihan ke energi alternatif tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan bakar, tetapi juga kebiasaan, kenyamanan, dan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Untuk menjaga ketersediaan pasokan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ambon terus melakukan pengawasan terhadap distribusi minyak tanah.
Berdasarkan data dinas saat ini, terdapat delapan agen minyak tanah dengan jaringan sekitar 2.000 pangkalan yang tersebar di berbagai wilayah Kota Ambon.
Patto menyebutkan, letak Kota Ambon yang relatif dekat dengan Integrated Terminal (IT) Wayame menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran pasokan.
Meski demikian, distribusi tetap membutuhkan koordinasi dan kedisiplinan seluruh pihak, termasuk agen dan pangkalan.
Menurutnya, keterlambatan penyaluran terkadang bukan disebabkan kekurangan stok, melainkan persoalan teknis, seperti keterlambatan pangkalan melakukan penyetoran kepada agen. Kondisi tersebut dapat berdampak pada waktu pengiriman minyak tanah ke pangkalan dan berimbas pada masyarakat.
Karena itu, pengawasan dan koordinasi secara berkala diperlukan agar rantai distribusi berjalan lancar.
Sistem Pengawasan juga kerap dilakukan, guna mengantisipasi lonjakan permintaan di masyarakat.
Menyoal terkait dugaan penimbunan, Patto mengatakan berdasarkan hasil pengawasan yang dilakukan Pemerintah Kota Ambon, pihaknya tidak menemukan praktik penimbunan minyak tanah oleh agen maupun pangkalan.
Kendati demikian, pengawasan tetap dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan sesuai ketentuan dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Antisipasi juga diperlukan ketika permintaan meningkat, terutama menjelang hari besar keagamaan seperti idul Fitri dan perayaan Natal dan Tahun Baru.
Pada periode tersebut, kebutuhan rumah tangga dan aktivitas sosial masyarakat cenderung meningkat. Pemerintah bersama pihak terkait perlu terus memantau stok dan perkembangan konsumsi agar penyaluran dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Dengan demikian, potensi gangguan distribusi dapat diketahui lebih awal dan ditangani sebelum menimbulkan keresahan masyarakat.
Sementara itu, Sales Branch Manager Maluku 1 Pertamina Patra Niaga, Aviv Noor Yulian, menjelaskan, penyaluran produk bersubsidi maupun produk penugasan, termasuk minyak tanah dan LPG, pada prinsipnya mengikuti kebijakan pemerintah.
Menurutnya, keputusan untuk melakukan konversi energi di suatu daerah bukan ditetapkan secara sepihak oleh Pertamina, melainkan menjadi kewenangan pemerintah sesuai kebijakan yang berlaku.
Di sisi lain, keberhasilan peralihan energi juga bergantung pada kesiapan masyarakat dalam menerima dan menggunakan bahan bakar alternatif.
Masyarakat yang telah lama menggunakan minyak tanah tentu memiliki kebiasaan tersendiri. Karena itu, perubahan pola konsumsi energi membutuhkan sosialisasi dan edukasi yang memadai, khususnya terkait keamanan dan cara penggunaan LPG.
Pada akhirnya, di tengah dorongan transisi energi, minyak tanah masih memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat Ambon. Bagi mereka, mitan bukan hanya soal bahan bakar, tetapi juga tentang kebiasaan, rasa nyaman, dan kebutuhan yang telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari.(Eda L.)

