Workshop Peningkatan Kompetensi Farmakovigilans Tenaga Kesehatan di Ambon
April 25, 2019AMBON,FM.- BPOM RI menggelar workshop peningkatan kompetensi farmakovigilans tenaga kesehatan diantaranya, tenaga kesehatan (Dokter, Dokter gigi, Apoteker, Perawat, Bidan) dengan 11 RS, 15 Puskesmas, 12 Apotik, 5 PBF, 3 Klinik, 4 Universitas, 3 Ikatan Profesi Kesehatan, Dinkes Promal dan Kota Ambon, yang digelar di Santika Hotel Ambon, Kamis (25/04/2019)
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam mendeteksi, memantau, melaporkan dan menindaklanjuti efek samping obat atau efek yang tidak diinginkan dari obat yang beredar.
Turut hadir sebagai pemateri Dr Instiaty PhD SpFK (Pakar FKUI), Dra Dwiana Andayani Apt (Badan POM RI) diantaranya, Tentang Basic Pharmacovigilance, Regulasi Pengawasan Obat Beredar, Pelaporan Efek Samping Obat, Studi Kasus dan Pengisian Laporan ESO.
Kepala BPOM Maluku, Hariani dalam sambutannya menjelaskan, uji publik untuk menilai khasiat mutu dan keamanan obat sebelum obat beredar mempunyai berbagai keterbatasan dengan waktu yang relatif pendek dan populasi yang kecil jika dibandingkan dengan keadaan setelah obat beredar, menjadikan pengawasan aspek keamanan obat pasca pemasaran menjadi sangat penting.
Haryani menjelaskan,untuk memungkinkan deteksi ESO yang jarang namun kadang-kadang sangat serius memerlukan peran aktif profesional kesehatan di seluruh dunia,dalam melaporkan isu memberikan kontribusi yang sangat bermanfaat dalam membantu menyelamatkan pasien dan orang lain.
Akuinya, data profil keamanan yang diperoleh dari suatu negara atau wilayah dapat memiliki relevansi dan nilai edukasi yang bermakna sehingga dapat mendorong dilakukannya tindak lanjut regulatory secara nasional .
Informasi keamanan obat yang diperoleh dari suatu negara mungkin tidak relevan dengan negara atau wilayah lain di dunia yang keadaannya mungkin berbeda. oleh karena itu, pemantauan penggunaan obat merupakan hal yang sangat penting sebagai alat untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya.
“Isu pemantauan ISO dapat membantu memastikan bahwa pasien mendapatkan produk yang aman dan berkhasiat hasil pemantauan itu juga memiliki nilai edukasi yang sangat penting,” cetusnya.
Dalam kesempatan tersebut juga Hariani ingatkan untuk melakukan pengawalan keamanan obat beredar, karena BPOM tidak dapat bekerja sendirian menjangkau wilayah Indonesia yang sangat luas dan populasi penduduk yang besar. BPOM juga senantiasa mengajak mitra Badan POM yaitu tenaga kesehatan industri farmasi akademisi serta masyarakat luas untuk berperan aktif dalam melakukan pengawalan dan pengawasan terhadap obat beredar.
Informasi yang disampaikan akan menjadi input dan sangat berharga dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat untuk memudahkan tenaga kesehatan melakukan pelaporan isu sejalan dengan era digitalisasi dan revolusi industri 4.0.
Badan POM telah menyediakan fasilitas pelaporan secara online melalui website subsistem e- meso pelaporan online diharapkan dapat menjadikan pelaporan ISO menjadi lebih cepat akurat serta menghemat biaya.
Diharapkan peserta dapat memanfaatkan kesempatan yang luar biasa Untuk memperoleh ilmu dan informasi dasar mengenai farmakovigilans serta praktek secara langsung dalam melakukan fasilitas MS melakukan pelaporan online. ( FM-08)
