Sahertian: Investasi Pendidikan itu Mahal
Juni 8, 2020AMBON,FM,- Anggota Komisi II DPRD Kota Ambon, Ari Sahertian menyatakan, investasi yang termahal adalah pendidikan anak, anak akan menjadi seperti apa dikemudian hari tergantung pendidikan yang diterapkan mulai dari pendidikan di dalam keluarga, maupun pendidikan formal di sekolah.Hal ini diungkapkan Sahertian kepada fokusmaluku.com saat ditemui di Baileo Rakyat Belso Ambon, Sein (08/06/2020)
Menurut Sahertian, terkadang jika mendengar tentang pendidikan gratis, banyak orang tua yang justru salah kaprah, sebagian beranggapan, pendidikan gratis semuanya akan gratis mulai dari siswa mendaftar masuk sekolah hingga lulus dari tingkatan pendidikannya.
Padahal pemahaman itu justru keliru, di Dunia manapun tidak ada pendidikan yang gratis walaupun dari segi tertentu maupun kebijakan yang menggratiskan biaya tertentu dalam pendidikan.dirinya mencontohkan situasi pandemic seperti ini proses penerimaan siswa baru akan dibebaskan dari biaya pendaftaran alias gratis.
“Pemahaman tentang pendidikan itu gratis sangatlah keliru, tidak ada pendidikan di dunia yang gratis, soal adanya kebijakan dari pemerintah dari Dinas Pendidikan kota Ambon tidak dikenakan biaya pendaftaran.bahkan ada hal lainnya yang mesti dipahami, seragam sekolah misalnya itupun mungkin dibiayai oleh dana BOS sebagian dan orang tua sebagian.sehingga jika ada kebijakan tertentu dari Dinas Pendidikan itu sudah sangatlah baik,” akui Sahertian.
Dalam pandangannya, Memang ada oknum-oknum tertentu yang sengaja bermain dibelakang itu dan mengambil faedah dari biaya-biaya pungutan siswa di sekolah tetapi sebenarnya yang dilakukan oleh pimpinan sekolah untuk meminta adanya partisipasi penuh dari orang tua dalam menunjang pendidikan anak adalah sebuah langkah yang bijaksana disertai dengan komitmen dinas Pendidikan tentu akan diikuti.
Akuinya, jika ada anak yang kurang mampu, pemerintah telah menyediakan beasiswa berupa Kartu Indonesia Pintar ditunjang dengan kartu Ambon pintar yang dibiayai oleh APBD bagi anak yang dianggap berprestasi. Mestinya beasiswa anak itu juga jangan disalahgunakan akan tetapi harus dipergunakan untuk kebutuhan anak dalam memenuhi tuntutan masa depannya.
“Jangan ada orang tua yang bersungut-sungut, itu keliru, pemerintah sudah sangat memperhatikan pendidikan di kota ini, orang tualah yang mestinya memahami,” bebernya.
Lebih jauh Sahertian menyatakan, mindset orang tua harus berubah “pendidikan itu mahal” yang diperlukan anak adalah dukungan penuh dari orang tua, sebab anak berhasil bukan karena guru atau lembaga pendidikannya tetapi justru dukungan penuh orang tua dan lingkungan sekitar tempat dia bertumbuh.
“Orang tua, guru harus berjalan sejalan artinya dukungan dan partisipasi haruslah berjalan seimbang, tetapi yang terpenting adalah support dari orang tua, apalagi anak itu anugerah, tentu tanggungjawab orang tua untuk membesarkan, mendidik dan memberikan yang terbaik bagi pendidikannya. Jika orang tua sudah sadar itu maka tingkat kualitas anak tidak akan diragukan lagi dan tingkat SDM akan tetap maju, berkualitas dan profesional. (FM-08);
