Pulau Buru Masih Mendomininasi Produksi Padi Gabah Kering Giling

November 5, 2018 0 By admin

AMBON, FM.- Pulau Buru, Provinsi Maluku masih menjadi kabupaten dengan tingkat produksi padi (Gabah Kering Giling) tertinggi di maluku yakni sebesar 54,42 ribu ton disusul oleh kabupaten Maluku Tengah sebesar 2 7,63 ton dan kabupaten Seram Bagian Barat ( SBB) sebesar 5,421 ribu ton, SBT sebesar 3,221 ton Maluku Tenggara Barat 191 ton, dan Kabupaten Maluku Barat Daya hanya 4 ton.

Dengan memperhitungkan potensi sampai Desember maka luas panen padi di provinsi Maluku periode januari hingga desember 2018 sebesar 23,32 ribu hektar dan produksi padi sebesar 90,89 ribu ton Gabah Kering Giling ( GKG)
” Diperkirakan potensi produksi padi pada Bulan Oktober sebesar 9,77 ribu ton, November sebesar 1,82 ton dan Desember sebesar 10,39 ribu ton. dengan demikian, perkiraan total produksi padi 2018 adalah sebesar 90,89 ribu ton,” ungkapnya.

Tuhumury memaparkan, Luas panen padi di provinsi maluku periode januari hingga september 2018 sebesar 17,72 ribu hektar dengan memperhitungkan potensi sampai Desember 2018 maka luas panen tahun 2018 adalah 23,32 ribu hektar.

Produksi padi di Maluku periode januari hingga september 2018 mencapai 68,91 ribu ton Gabah Kering Giling berdasarkan potensi produksi sampai desember 2018 maka diperkirakan total produksi padi pada tahun 2018 sebesar 90,89 ribu ton KGK. jika produksi padi dikonversi yang menjadi beras dengan menggunakan angka konversi di kg ke beras tahun 2018 maka produksi padi tersebut setara dengan 38, 39 ribu ton beras. Demikian diungkapkan, Kepala bidang Produksi Statistik pada BPS Maluku, Jhony Tuhumury saat konfrensi pers di kantornya, (1/11/2018)

Dijelaskan, sesuai dengan perkembangan teknologi dirasa perlu untuk memperbaharui metode perhitungan produksi padi studi yang dilakukan oleh BPS bersama Japan Internasional Corporation Agency pada tahun 1958 telah mengisi harapkan cover estimasi luas panen sekitar 1 7,07% begitu pula dengan perhitungan luas lahan bagus sawah yang cenderung meningkat walaupun factory lapangan menunjukkan terjadinya pengalihan fungsi lahan untuk industri perubahan atau infrastruktur meskipun di sisi lain juga ada proses pencetakan sawah.

Pihaknya berupaya memperbaiki metodologi dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area ( KSA) yang merupakan metode perhitungan luas panen khususnya tanaman padi dengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah yang berasal dari kementerian ATR/ BPN.

BPS Tambahnya, melakukan penyempurnaan metodologi dengan menghitung produktivitas per hektar dari metode ubinan berbasis rumah tangga menjadi metode ubinan berbasis sampel KSA, penyempurnaan dilakukan untuk mendapatkan angka konversi yang lebih akurat dengan melakukan survey di dua periode yang berbeda dengan basis provinsi. sehingga akan didapatkan angka konversi untuk masing-masing provinsi, jika sebelumnya konversi dilakukan hanya berdasarkan satu mesin tanam dan secara nasional.( FM-08)