“Perempuan” Solusi Penggerak Ekonomi Syariah
Oktober 28, 2025AMBON, fokusmaluku.com- Peran perempuan sangatlah penting karena merupakan bagian dari kehidupan berdemokrasi dan transparansi dalam penyelenggaraan negara. Keterlibatan kaum perempuan akan memberi keseimbangan dan pengawasan yang ber-perspektif gender serta dapat menjamin kepastian non-diskriminatif, lebih adil, dan setara.
Termasuk perempuan dan keuangan syariah saling berkaitan karena perempuan memiliki peran krusial dalam mengelola keuangan keluarga dan ekonomi secara lebih luas, serta menjadi agen perubahan untuk literasi keuangan syariah.
Pemberdayaan perempuan melalui keuangan syariah, baik sebagai pengelola keuangan rumah tangga, wirausaha, maupun investor, dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan perekonomian secara keseluruhan.
Aspek-aspek penting termasuk pengelolaan keuangan keluarga, berwirausaha dengan prinsip syariah, dan peningkatan literasi keuangan agar tidak mudah menjadi korban penipuan finansial.
Peran perempuan dalam keuangan syari iniah
Mengelola keuangan keluarga artinya, perempuan seringkali berperan sebagai pengelola utama keuangan keluarga, sehingga pemahaman mereka tentang prinsip syariah penting untuk menabung, berinvestasi, dan membuat keputusan keuangan yang sesuai dengan syariat.
Berwirausaha syariah artinya, perempuan yang berwirausaha dengan prinsip syariah dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga, misalnya melalui bisnis kuliner halal atau produk fashion syariah. Mereka juga berperan dalam mendukung ekosistem halal.
Perempuan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran literasi keuangan syariah di dalam keluarga dan komunitasnya, termasuk mengajarkan anak-anak untuk mengelola keuangan dengan bijak dan juga dalam hal pengambilan keputusan yang mana, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di lembaga keuangan syariah, seperti dewan direksi atau komite pengawas, dapat mendorong keuangan yang lebih inklusif dan adil.
Perlindungan dari penipuan: Meningkatkan literasi keuangan bagi perempuan sangat penting untuk melindungi mereka dari berbagai bentuk penipuan finansial, baik secara daring maupun konvensional.
Sebut saja tokoh perempuan hebat Indonesia, Kartini mengingatkan kita akan pentingnya pemberdayaan wanita dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam literasi keuangan syariah. Pemberdayaan wanita dalam hal ini melibatkan pendidikan, pengetahuan, dan akses terhadap informasi mengenai prinsip-prinsip keuangan Islam dan instrumen keuangan syariah.
Perempuan perlu diberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang literasi keuangan syariah, sehingga mereka dapat mengambil keputusan keuangan yang bijak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK)pun berupaya meningkatkan literasi keuangan syariah di masyarakat dengan melakukan perluasan edukasi keuangan. Langkah dilakukan melalui peningkatan pemahaman keuangan syariah bagi para perencana keuangan.
Sebagai bagian komitmen tersebut, OJK pun menggelar kegiatan training of trainers (TOT) Duta Literasi Keuangan Syariah bagi para perencana keuangan yang dikemas dalam program Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (SICANTIKS) di Jakarta, Senin. Acara ini diikuti 100 para perencana keuangan perempuan.
Kegiatan SICANTIKS bertema “Kartini di Era Digital: Perencana Keuangan Perempuan sebagai Penggerak Literasi Keuangan Syariah” ditujukan untuk membekali para perencana keuangan dengan berbagai ilmu keuangan syariah. Dengan begitu para perempuan pun bisa membagikan dan menyebarluaskannya kepada masyarakat.
OJK juga dalam komitmennya, terus berupaya mendorong peran perempuan sebagai penggerak literasi keuangan syariah untuk semakin pandai mengatur perekonomian dan melindungi keluarga dari maraknya kejahatan finansial. Demikian disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, dalam kegiatan Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (SICANTIKS) yang diikuti ratusan perempuan dari berbagai kelompok, Selasa (07/10/2025)
Baginya, perempuan memiliki peran strategis dalam rumah tangga dan merupakan fondasi utama dalam pembentukan generasi yang cerdas secara finansial. Hal ini diperkuat oleh data OECD yang mencatat 95 persen pelajar mengaku mendapatkan literasi keuangan dari ibu mereka.
“Peran untuk melindungi adalah dengan memberikan edukasi dan literasi, karena itu pentingnya literasi dan edukasi keuangan untuk ibu-ibu semua,” kata Friderica.
Dengan memperkuat literasi keuangan bagi kaum Ibu, secara tidak langsung dapat memperbaiki kualitas generasi mendatang dan memajukan perekonomian nasional.
Dirinya bahkan menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara para pemangku kepentingan terkait dengan pemerintah daerah untuk membuat program literasi keuangan secara berkelanjutan bagi masyarakat.
Di tengah peran krusial perempuan tersebut terdapat tantangan yang dihadapi OJK. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025, mencatat indeks literasi dan inklusi keuangan syariah masing-masing baru mencapai 43,42 persen dan 13,41 persen. Angka ini menunjukkan gap yang cukup signifikan dibandingkan dengan indeks keuangan nasional yang telah menyentuh 66,46 persen untuk literasi keuangan dan 80,51 persen untuk inklusi keuangan.
Literasi dan inklusi ini membuka celah kerentanan masyarakat terhadap berbagai modus kejahatan finansial digital yang kian masif. Oleh karena itu, OJK secara tegas memperingatkan publik akan ancaman serius mulai dari investasi ilegal, pinjaman online fiktif, social engineering, hingga penipuan berkedok file APK via WhatsApp.
OJK menjawab tantangan tersebut dengan menjalankan strategi komprehensif melalui berbagai program, diantaranya SICANTIKS, Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS), Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS), dan Indonesia Anti-Scam Center (IASC). Berdasarkan data OJK, hingga September 2025 IASC telah menyelamatkan potensi kerugian sebesar Rp2,25 miliar dari penipuan di sektor jasa keuangan syariah.
Sejumlah kegiatanpun dilakukan sebagai wujud sinergi antara OJK dengan para pemangku kepentingan di daerah. OJK meyakini kolaborasi yang solid adalah kunci untuk mewujudkan ekosistem keuangan syariah yang inklusif dan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara merata.
Program Sahabat Ibu Cakap Literasi dan Inklusi Keuangan merupakan komitmen OJK dan bentuk nyata cinta kepada keuangan syariah, serta upaya memperluas inklusi keuangan syariah di Indonesia.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi mendorong partisipasi perempuan dalam melaksanakan usaha, khususnya di sektor ekonomi dan keuangan syariah agar mampu menciptakan perubahan positif di masyarakat secara berkelanjutan.
“Tahun 2023, pelaku usaha UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) mencapai sekitar 66 juta dengan kontribusi terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 61 persen (KADIN Indonesia, 2024).
Data juga menunjukkan bahwa 64,5 persen pelaku UMKM di Indonesia sebagian besar adalah perempuan (BPS, 2024). Hal ini tentu menyadarkan kita semua bahwa peran perempuan sangat besar dalam membantu perekonomian negara dan tidak bisa dilihat dengan sebelah mata.
Peran perempuan pelaku UMKM menjadi bukti nyata perempuan dapat mengambil bagian dalam menciptakan perubahan positif di masyarakat, khususnya muslimpreneur yang berkontribusi dalam menegakkan prinsip-prinsip syariah dan keberkahan dan mandiri di bidang ekonomi syariah.
Di momen peringatan hari perempuan internasional, PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) dukung pemberdayaan perempuan. Ungkap Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum.
Baginya, untuk menjadi perempuan yang berdaya, perempuan perlu memiliki pemahaman finansial sehingga mampu mengelola keuangan dengan baik untuk dirinya maupun keluarganya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik melaporkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2024 menunjukan indeks literasi keuangan syariah perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki di tahun 2023. Indeks literasi keuangan syariah untuk perempuan tercatat mencapai 40,45 persen.Sementara untuk laki-laki lebih rendah yakni 37,78 persen dan indeks inklusi keuangan syariah pada perempuan tercatat mencapai 13,31 persen dan laki-laki 12,4 persen. (Eda L)


