Hoax Covid 19 Antara Pandemic dan Infodemic
Oktober 4, 2020AMBON,FM,- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kota Ambon menyelenggarakan Webinar dengan tema” Hoax Covid 19 Antara Pandemic dan Infodemic, yang terselenggara secara virtual, Rabu (30/09/2020)
Webinar ini menghadirkan pembicara handal yakni Guru besar fisip Universitas Airlangga dan staf ahli menteri komunikasi dan Informatika, Bagian Hukum, Prof.Dr.Henri Subiakto, Pimpinan OPD lingkup Pemkot Ambon, para pengelola arsip SKPD.
Tak dapat dipungkiri dalam situasi pandemic covid 19 saat ini juga, masyarakat menerima informasi yang menyesatkan terkait covid 19 yang sering disebut sebagai Infodemic. sehingga tak heran jika banyak kalangan masyarakat yang percaya dan tidak tentang covid.
Dalam kesempatan tersebut, Wali kota Ambon,Richard Louhenapessy menyatakan, dampak dari pandemic maupun Infodemic
sampai hari ini masih saja terjadi perbedaan pendapat antara pribadi, kelompok, institusi maupun lembaga-lembaga lain tentang covid sendiri.
Menurutnya, pada tahun 1918 dunia pernah mengalami pandemic yang dikenal dengan istilah flu Spanyol, kurang lebih 500 juta orang meninggal karena infeksi. Lantaran saat pemerintah mengambil kebijakan PSBB banyak masyarakat yang tidak yakin tetapi taat dan disipilin pada rumah mereka tetapi hasrat untuk bebas sangatlah kuat. namun saat kebijakan lock down dibuka, orang justru menunjukan eforia.dampak dari kesukacitaan yang berlebihan itu, terjadilah malapetaka karena kematian yang tidak bisa dihindari. Apakah kita mau belajar dari sejarah ataukah mau mengulangi sejarah di saat ini.
Pada beberapa kesempatan Walikota Ambon selalu diminta untuk membuktikan covid itu benar ada atau tidak, apakah pemerintah memang sengaja menggulirkan n opini agar pemerintah memperoleh dana.
Memang secara fisik covid sulit untuk dilihat, membuktikan tetapi gejala ini mengglobal di seluruh dunia seluruh sektor berhenti baik club’ malam, lokasi prostitusi, gereja dan masjid juga ikut ditutup kalau neraka dan sorga sudah bersikap seperti itu apakah tidak percaya lagi ? Jika sorga dan neraka sudah bersikap sepeti ini apakah kita tidak percaya lagi.
Di era saat ini musuh yang paling membahayakan adalah virus Corona dan Hoax
Diharapkan, pesan ini dapat diteruskan oleh seluruh warga dan kelompok masyarakat dimana kita berada.
Menjawab itu, Prof.Dr.Henri Subiakto dalam pemaparan materinya menyebutkan, Infodemic sangatlah berbahaya ditengah pandemic berupa penyebaran berita-berita palsu seputar wabah Corona. Hal ini tidak kalah berbahaya karena membuat publik bingung, cemas, tidak percaya ilmu pengetahuan kedokteran bahkan tidak percaya pada petugas pemerintah.akibatnya terjadi segregasi digital yang mana masyarakat hanya mau mendengar dari sumber yang sudah sepikiran hingga memperteguh sikap mereka dan hoaxpun dianggap sebagai kebenaran karena sesuai dengan suara yang bergema.
” Tak heran jika ditengah pandemic yang kian serius dihadapi negara ini, kepercayaan masyarakat turut mengikis akibat terimbas oleh keberadaan informasi yang ada,” ucapnya.
Menurutnya, hoax lebih banyak menyebar melalui media sosial ( Medsos) mengapa medsos ? karena medsos memberi informasi tercepat, memfasilitasi hasrat manusia diperhatikan dengan memperhatikan sehingga menciptakan adiksi sosial.medsos membentuk kebenaran semu lewat kegaduhan.medsos mengawasi semua perilaku penggunanya tanpa menyusahkan ruang privat, medsos menjadi sumber disinformasi, dimana kebenaran dikalahkan dengan keyakinan.
“Sayangnya timbul berita bohong tidak benar yang amat merugikan dalam penatalaksanaan wabah ini, masyarakat semakin bingung dan tidak percaya dengan upaya yang dilakukan pemerintah,” tuturnya.
Mengapa orang lebih percaya hoax, tanyanya, Karena kecenderungan membaca dan menyimpulkan secara cepat, kurang evaluasi terhadap kredibilitas berita, kurang berpikir kritis terhadap informasi yang membangkitkan emosi.
Lebih jauh dijelaskan, seluruh Infodemic yang salah melalui hoax itu membuat masyarakat tidak patuh terhadap protokol kesehatan.
Beberapa alasan yang mencuat adalah karena masyarakat tidak tau bahaya covid, karena ada alasan kepentingan lain yang lebih besar, karena tidak percaya pada bahaya covid, alasan kontekstual yang menyebabkan tidak patuh, juga karena bosan dan jenuh.
Walau demikian, pemerintah tidak tinggal diam, melainkan terus mengambil lima langkah percepatan transformasi digital yakni, melakukan percepatan perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital dan penyediaan layanan internet.
Kedua, mempersiapkan roadmap transformasi digital pada sektor strategis baik pemerintahan, layanan publik, bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, perdagangan, industri maupun penyiaran.
Ketiga, percepat integrasi pusat data nasional
Keempat, persiapkan kebutuhan SDM talenta digital.
Kelima, yang berkaitan dengan regulasi, skema pendanaan dan pembiayaan segera dipersiapkan secepat-cepatnya. (FM-09)
