Perempuan Milenial di Era Digital

Perempuan Milenial di Era Digital

Agustus 27, 2020 0 By admin

AMBON,FM,- Gaung suara perempuan milenial terus berkumandang.Bergerak progresif memasuki tahapan baru yaitu revolusi industri 4.0, merupakan sebuah terobosan baru dari kemajuan teknologi dalam skala besar, yang mampu mengintegrasikan dunia fisik, digital sehingga mempengaruhi berbagai disiplin ilmu seperti industri, ekonomi dan pemerintahan.

Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18. Saat ini revolusi industri berada diposisi atas, dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap kelangsungan hidup manusia, bukan hanya sekedar alat berinteraksi tetapi menjadi basis transaksi perdagangan dan transportasi secara online. Dengan hal ini revolusi industri 4.0 membuka peluang bagi perempuan untuk maju.

Dahulu perempuan memiliki keterbatasan kultural dan struktural dalam pengunaan teknologi. Adanya dominasi, pembagian peran antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh budaya patriarki, mengakibatkan perempuan mendapatkan stereotip dalam ekonomi ataupun pendidikan.

Teknologi dan informasi yang mudah diakses dapat dimanfaatkan perempuan milenial sebagai bentuk keterlibatan dalam dinamika peradaban. Menurut Hasanuddin dalam buku “Millenial Nusantara”, generasi  milenial merupakan generasi yang memiliki tiga karakteristik yaitu, Connected, kemampuan untuk bersosialisasi dalam sebuah komunitas dan aktif dalam media sosial dan internet. Creative, generasi yang terdiri dari orang yang memiliki pola pikir out of the box, banyak ide, konsep yang berbeda dan unik.

Confidence, generasi yang memiliki kepercayaan diri, berani menyampaikan argumen melalui media sosial. Karakter tersebut sangat melekat erat dengan perempuan milenial yang bergerak maju dalam memanfaatkan fasilitasi teknologi.

Sebagai contoh; Claudia Wijaya dan Yenti Elizabeth, sosok perempuan milenial pendiri BerryBenka yang saat ini menjadi e-commerce yang menyediakan kebutuhan perempuan dan laki-laki untuk berpenampilan. Cynthia Tenggara, pendiri Berrykitchen yang merupakan penyedia makanan berkonsep bekal.

Tanpa mengesampingkan perannya sebagai perempuan, sosok tersebut mampu mengekspresikan diri  dan menunjukan eksistensinya melalui bisnis Strar-up.  Bisnis strar-up merupakan sebuah perusahaan yang baru didirikan dan berkembang dengan mengunakan layanan digital seperti teknologi internet, website untuk menjalankan pekerjaannya.

Fokus dari start-up adalah untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya, oleh sebab itu start-up selalu menghadirkan inovasi baru. Hal ini memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki perempuan milenial yang mampu berdikari dalam hal ekonomi.

Pemikiran kreatif dan progresif dari perempuan milenial juga dibutuhkan dalam bidang politik. Sampai saat ini, nuansa politik yang dibawa kaum milenial masih terletak pada marketing politik, tetapi dalam upaya pembuatan kebijakan publik masih rendah.

Melalui adanya aksi afirmasi penetapan kuota minimal 30% dalam menaikan keterwakilan perempuan seharusnya menjadi peluang untuk perempuan milenial lebih aktif terlibat dalam institusi politik, seperti parlemen.

Berdasarkan UU No. 2 Tahun 2008 mengharuskan partai politik menyertakan perempuan minimal 30% dalam pendirian ataupun dalam kepengurusan di tingkat pusat.

Peraturan lainnya terkait keterwakilan perempuan termuat dalam UU No.10 Tahun 2008 pasal 2 yang mengatur tentang penerapan zipper system, yakni setiap 3 orang bakal calon legislatif, minimal terdapat satu orang perempuan. Ironinya representasi perempuan dalam dunia politik sudah di dorong, namun hasil nya masih belum memuaskan.

Selain itu citra politik Indonesia masih dikuasai oleh politisi senior bukan hanya secara fisik tetapi dalam aspek pemikiran. Mengingat saat ini era digital yang terkoneksi dengan cepat dan selalu mengalami perubahan.

Sedangkan generasi tua memiliki nilai yang teratur dan stabil, apabila generasi milenial berada dalam kepemimpinan tua akan menimbulkan kepastian dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan.

Menyikapi hal ini diperlukan introspeksi, bahwa perempuan milenial harus lebih lantang dan berani dalam menjebol dan membangun paradigma baru.  Seperti yang Soekarno katakan dalam buku “Sarinah”, bahwa; Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang ikutlah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat, ikutlah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional.

Jangan ketinggalan di dalam Revolusi Nasional ini dari awal sampai akhirnya, dan jangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menyusun masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan-sosial.

Di dalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial itulah engkau nanti menjadi wanita yang bahagia, wanita yang merdeka!
Rejuvenasi pemikiran dan metode kepemimpinan, yang memanfaatkan teknologi menjadi nilai tawar bagi perempuan milenial untuk ikut serta dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh Amelda Salim,S.IP