Guru dan Kepsek Tingkat SD Hadiri Webinar PJJ
Oktober 11, 2020AMBON,FM,- Sebanyak 900an guru tingkat SD dan Kepala Sekolah mengikuti Webinar Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) yang terlaksana secara virtual atas kerjasama My Edu dengan pemerintah kota Ambon, Sabtu (10/10/2020)
Webinar ini turut dihadiri oleh, Wali kota Ambon, Sekretaris kota Ambon, Ketua Tim PKK kota Ambon, Fasilitator umum My Edu, dibawah
tema ” tantangan dan peluang pembelajaran jarak jauh, menghadirkan juga pemateri handal yakni, Ester Kurniawati S.S M.Pd, yang juga adalah seorang konsultan pendidikan.
Webinar ini diawali dengan pengantar kata pembuka dari Dr.Gede Widiada, dilanjutkan dengan sambutan singkat dari Fasilitator Umum My home Indonesia, Dr.Daniel Pandji.
Dalam sambutannya, wali kota Ambon, Richard Louhenapessy menyatakan, dirinya memberikan apresiasi yang tinggi kepada 940 peserta yang turut hadir dalam Webinar dari 1000 yang telah mendaftar.
Menurutnya, kesediaan untuk mengikuti Webinar adalah sebuah wujud komitmen serta kepedulian dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik, seorang tokoh untuk mempersiapkan masa depan bangsa ini melalui jalur pendidikan.
Dari sebuah video singakt yang diputar, sebelum acara, dirinya mengaku kaget lantaran fakta membuktikan dari kualitas pendidikan akibat dari dampak teknologi digital yang terlaksana secara mendunia, anak- anak di Jakarta kurang lebih mengalami ketertinggalan 128 tahun dibandingkan dengan anak-anak yang diluar negeri.
Ditambah lagi dengan kemampuan dan kompetensi para guru kita itu masih berada pada skor 53+, jika Jakarta sudah seperti itu bagaimana dengan kondisi daerah-daerah yang kita diami.
“Fakta fakta itu tidak membuat kita semakin pesimis tetapi mendorong kita untuk lebih optimis berpacu dengan segala ketertinggalan yang ada pada kita,” ucap wali kota.
Mengapa kita tertinggal kuncinya adalah soal penguasaan teknologi dan kemampuan sumber daya manusia, banyak teknologi maju yang dimiliki negara maju, kita mencoba itu untuk melaksanakan itu dan beradaptasi.
Dari seluruh kuisioner yang diisi, hasil survei menunjukan 70, 60 persen para guru berpendapat lebih nyaman mengajar secara offline, 11 persen berpendapat lebih nyaman belajar secara online dan 18,40 persen berpendapat boleh saja offline dan juga online.
Dikatakan, gambaran ini memberikan kesan bahwa optimisme sangatlah lemah, persoalannya karena rata-rata kita belum menguasai teknologi digital.
“Tantangan kita kedepan akan semakin nampak, kita boleh saja tidak mau merubah diri tetapi perubahan teknologi digital akan terus mengejar kita kalau kita tidak mampu beradaptasi dengan teknologi kita akan digilas dan dengan sendirinya kita akan tertinggal,” bebernya.
Akuinya, pada saatnya nanti hanya mereka yang benar-benar menguasai teknologi yang akan dipakai sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dunia ini.Oleh karena itu, harus terus mengupgrade diri, mengembangkan diri sebagai kunci kesuksesan di masa depan.
“Kita harus merubah paradigma, tidak melihat teknologi digital dalam persepsi kita adalah barang mewah, kita betul mendapat kesempatan luar biasa,mari beradaptasi dan memacu diri untuk terus bergerak maju serta berupaya untuk menciptakan sesuatu yang terbaik,” tuturnya.
Bagi guru yang tidak mampu beradaptasi dengan teknologi secara baik, anak-anak akan tidak respek terhadap guru kalau itu terjadi guru akan tersinggung, anak yang menjadi korban
Louhenapessy juga mengaku, sangat prihatin atas hasil survei yang dilakukan terhadap 1000 responden guru di kota Ambon yang dari hasil survei menunjukan terdapat 31,3 persen guru melakukan pendidikan jarak jauh dengan menggunakan HP, 68,7 persen melalui laptop, iPad, dan perangkat lunak lainnya.
Yang sangat memperihatinkan lagi dari 89,4 persen menjawab pembelajaran jarak jauh sangat tidak efektif, jawaban ini berangkat dari penguasaan dan pemahaman teknologi digital.
“Saya tekankan sekali lagi, masa depan adalah milik semua anak secara bersama, karena kita harus berikan yang terbaik, merubah paradigma bagi anak- anak kita,” ujarnya.
Kedepan yang dibutuhkan adalah kualitas bukan pangkat tinggi, pakai kesempatan untuk menyerap pengetahuan hadapi tantangan yang luar biasa.
Dalam kesempatan tersebut, pemateri, Ester Kurniawati melalui materinya tentang “perubahan paradigma” mengungkapkan, perubahan itu haruslah dimulai dari diri sendiri sebelum berharap anak didik dapat melakukannya.
Mengapa kita harus berubah untuk diri kita sendiri demi anak-anak kita yang selama enam tahun akan tumbuh bersama kita dibangku sekolah dasar mereka penerus untuk Kota Ambon kedepan.entah bagaimana kondisi dan wajah kota Ambon pada 20 tahun akan datang ataupun 45 tahun nanti sangatlah tergantung dari apa yang kita berikan untuk mereka sekarang.
“Marilah mulai saat ini kita punya sikap yang baik untuk sikap untuk berubah lebih baik buat anak didik dan generasi di kota Ambon,” demikian kata Kurniawati. (FM-08)


