Diskon Tarif Listrik Mendorong Deflasi di Maluku

Diskon Tarif Listrik Mendorong Deflasi di Maluku

Februari 7, 2025 0 By admin

AMBON, fokusmaluku.com- Realisasi Indeks Harga Konsumen (IHK) gabungan kabupaten/kota di Provinsi Maluku mengalami deflasi pada Januari 2025. Berdasarkan data BPS, Provinsi Maluku mengalami deflasi sebesar 0,33% (mtm).

Release yang diterima media ini, Selasa (04/02/2025) menyebutkan, capaian tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan realisasi IHK nasional yang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,76% (mtm).

Secara spasial, deflasi bersumber dari Kota Tual dan Kota Ambon dengan deflasi masing-masing sebesar 1,47% (mtm) dan 0,74% (mtm). Namun demikian, capaian angka deflasi yang lebih dalam tertahan oleh Kab. Maluku Tengah yang mengalami inflasi sebesar 0,46% (mtm).

Secara tahunan, tekanan inflasi gabungan kabupaten/kota IHK di Provinsi Maluku pada Januari 2025 tercatat 0,76% (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,28% (yoy) dan relatif sama dengan inflasi Nasional sebesar 0,76% (yoy).

Deflasi yang terjadi di Provinsi Maluku utamanya didorong oleh Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar, dengan andil deflasi sebesar 1,50% (mtm).

Deflasi kelompok tersebut utamanya bersumber dari pengimplementasian paket stimulus ekonomi berupa potongan tarif listrik 50% bagi pelanggan daya 2.200 VA ke bawah, sebagaimana Keputusan Menteri ESDM Nomor 348.K/TL.01/MEM.L/2024.

Laju deflasi yang lebih dalam tertahan oleh inflasi di kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 1,02% (mtm).

Inflasi tersebut didorong oleh peningkatan harga ikan pelagis, utamanya ikan selar, ikan layang, dan ikan tongkol,dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,22% (mtm), 0,19% (mtm), dan 0,07 (mtm), akibat terganggunya pasokan di tengah mulai memasukinya musim hujan di Kota Ambon dan Kab. Seram Bagian Barat yang menyebabkan terganggunya aktivitas perikanan nelayan. Selain itu, komoditas cabai rawit dan cabai merah turut berkontribusi pada inflasi Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil masing-masing sebesar 0,18% (mtm) dan 0,17% (mtm) antara lain dikarenakan terdapat gangguan produksi akibat curah hujan yang tinggi pada beberapa daerah sentra produksi.
(**)