Bersalin Tanpa Biaya, Florensia Rasakan Manfaat Program JKN
Maret 30, 2026AMBON, fokusmaluku.com-; Masyarakat kini semakin mudah mengakses layanan kesehatan melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kehadiran program tersebut dinilai mampu memberikan kemudahan akses layanan kesehatan yang cepat dan setara bagi seluruh peserta JKN. Mudah, cepat dan setara menjadi tiga prinsip utama yang diharapkan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.
Salah satu manfaat Program JKN dirasakan langsung oleh Florensia Molle (22), warga Gunung Nona, Kota Ambon. Florensia mengaku baru pertama kali menggunakan haknya sebagai peserta JKN saat menjalani persalinan normal untuk kelahiran putri pertamanya. Ia menyampaikan rasa puas atas pelayanan kesehatan yang diterimanya.
“Saya dan keluarga terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) sejak tahun 2018. Baru kali ini saya menggunakan JKN untuk persalinan. Awalnya dokter menyarankan operasi caesar karena perkiraan panggul yang cukup kecil, sehingga kami menunggu jadwal yang telah ditentukan. Namun, sebelum jadwal tersebut, saya tiba-tiba merasakan kontraksi dan akhirnya putri saya lahir secara normal tanpa operasi caesar,” ujar Florensia, Senin (02/02).
Selama menjalani proses persalinan dan perawatan di rumah sakit, Florensia mengaku benar-benar merasakan berbagai kemudahan dalam pelayanan kesehatan. Menurutnya, ia hanya diminta diminta menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), setelah itu langsung dilayani. Penanganan oleh dokter dan tenaga medis juga diakuinya sangat cepat.
“Yang paling saya rasakan adalah tidak adanya perlakuan yang berbeda. Padahal saya peserta PBI, yang artinya iuran saya dibayarkan oleh pemerintah. Sebelumnya saya sempat berpikir akan ada perbedaan layanan, namun ternyata tidak demikian,” ungkapnya.
Florensia juga mengaku semakin bersyukur karena tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun selama menjalani persalinan dan perawatan di rumah sakit. Seluruh biaya telah ditanggung oleh Program JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.
“Kami tentu menyiapkan kebutuhan persalinan, tetapi tidak dapat dibayangkan jika saya harus menjalani operasi caesar tanpa JKN. Biaya yang harus dikeluarkan pasti sangat besar. Ini menjadi pelajaran bagi kami untuk selalu memastikan kepesertaan JKN tetap aktif, karena kita tidak pernah tahu kapan sakit datang dan berapa besar biaya yang dibutuhkan,” ujarnya.
Florensia pun mengaku bangga menjadi peserta JKN. Ia juga menyampaikan apresiasi serta harapannya agar Program JKN terus berlanjut dan memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat. Menurutnya, jika tidak ada Program JKN, ia dan keluarga sudah pasti akan kebingungan menghadapi biaya rumah sakit.
“Program JKN benar-benar sangat membantu dan dapat diandalkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah menanggung iuran dan memastikan saya serta keluarga terdaftar sebagai peserta JKN aktif. Harapan saya, Program JKN tetap hadir untuk melindungi jutaan masyarakat yang membutuhkan seperti saya,” tutupnya.
Terbantu JKN, Pasien Hemodialisis Jalani Pengobatan dengan Tenang
Ambon, Jamkesnews – Manfaat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dirasakan secara nyata oleh Patima Tuharea, peserta JKN yang saat ini menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah di RSUD dr. M. Haulussy Ambon. Patima mengungkapkan bahwa dirinya mulai menjalani cuci darah sejak Desember 2025. Kondisi tersebut bermula dari keluhan sesak dada, kesulitan bernapas, serta pembengkakan pada bagian kaki. Mengalami keluhan tersebut, Patima memutuskan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat guna mendapatkan penanganan awal.
“Saat itu saya tidak pernah terlintas akan menjalani pengobatan seperti ini. Namun kenyataannya saya harus menjalani cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu. Awalnya saya dan keluarga belum berani melakukan pemeriksaan lanjutan karena ragu dengan kepesertaan JKN saya. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata saya telah terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). Setelah itu barulah saya memberanikan diri,” ujar Patima, Rabu (28/01).
Selama menjalani cuci darah, Patima mengaku tidak pernah mengalami kendala berarti. Ia juga menyampaikan bahwa seluruh petugas, baik administrasi maupun tenaga medis, memberikan pelayanan dengan ramah dan profesional.
“Berita-berita yang beredar tidak sesuai dengan apa yang saya alami. Faktanya, saya dilayani dengan sangat baik. Seluruh prosedur dijelaskan dengan jelas, petugas medis bekerja cepat dan sigap dalam menyiapkan kebutuhan pasien, serta tidak ada perlakuan yang dibeda-bedakan. Saya juga merasa sangat terbantu dengan adanya Aplikasi Mobile JKN,” ungkapnya.
Berbekal tanggungan pemerintah, Patima dan keluarganya kini tidak lagi khawatir memikirkan biaya pengobatan yang harus ditanggung. Apalagi menurutnya, biaya cuci darah itu cukup besar. Sekali tindakan bisa mencapai sekitar Rp1,3 juta.
“Karena saya harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu, maka dalam sebulan biayanya bisa mencapai Rp10 hingga Rp11 juta. Sejak awal, yang kami pikirkan adalah soal biaya. Namun sekarang kami merasa sangat terbantu karena telah aktif sebagai peserta JKN,” jelas Patima.
Patima pun mengapresiasi Program JKN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Menurutnya, program ini sangat penting dan patut dipertahankan karena memberikan perlindungan kesehatan yang nyata bagi masyarakat. Tak lupa, ia mengimbau masyarakat agar segera mendaftarkan diri dan selalu memastikan keaktifan kepesertaan JKN bagi diri sendiri dan keluarga.
“Kami sangat bersyukur saat mengetahui saya terdaftar sebagai peserta PBI yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah. Terima kasih atas perhatian pemerintah kepada masyarakat. Kami berharap Program JKN selalu hadir untuk membantu lebih banyak masyarakat yang membutuhkan seperti saya. Belajar dari pengalaman saya, selama ini saya merasa sehat-sehat saja, padahal kita tidak pernah tahu kapan sakit datang. Jangan menunda untuk menjadi peserta JKN. Langkah kecil yang dilakukan sejak sekarang akan sangat berdampak baik bagi diri dan keluarga di kemudian hari,” ujar Patima.
BPJS Kesehatan Bawa Harapan bagi Pasien Cuci Darah di Ambon
Ambon, Jamkesnews – Hemodialisis atau cuci darah merupakan tindakan medis yang harus dijalani oleh penderita gagal ginjal atau penyakit ginjal kronis akibat gangguan fungsi ginjal. Tindakan ini merupakan upaya terapi yang harus dijalani secara rutin, umumnya satu hingga dua kali dalam seminggu atau lebih, bergantung pada kondisi pasien.
Untungnya, Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan juga menjamin tindakan hemodialisis, sehingga peserta JKN dapat menjalani terapi tanpa khawatir memikirkan biaya. Johan Samu Samu (67), salah satu peserta dengan riwayat diabetes dan hipertensi yang terindikasi sejak April 2025, telah rutin menjalani tindakan cuci darah akibat gangguan fungsi ginjal yang dialaminya.
“Sejak mendapat diagnosis, kami langsung bergegas memastikan keaktifan kepesertaan JKN milik ayah. Namun saat itu statusnya tidak aktif karena sebelumnya terdaftar melalui perusahaan. Hingga akhirnya kami memutuskan mendaftarkan beliau sebagai peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau mandiri kelas rawat tiga, namun kini telah dialihkan ke segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI),” ungkap Lanny, yang merupakan anak Johan, saat ditemui pada Senin (09/02).
Menurut Lanny, langkah tersebut dilakukan karena dirinya dan keluarga menyadari pentingnya Program JKN dalam menjamin keberlangsungan pengobatan ayahnya. Lanny mengungkapkan bahwa biaya cuci darah sangat mahal. Satu kali tindakan membutuhkan biaya sekitar satu juta rupiah lebih, sedangkan ayahnya harus menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu.
“Jika dihitung dalam satu bulan, kami harus membayar kurang lebih sepuluh juta rupiah. Namun, jika menjadi peserta JKN, hanya perlu membayar iuran sekitar tiga puluh lima ribu rupiah setiap bulan. Bahkan kini kami tidak perlu membayar karena iurannya telah ditanggung pemerintah. Inilah peran penting Program JKN, mengingat pengobatan ini bersifat jangka panjang dan rutin. Terus terang, kami sangat bergantung pada Program JKN,” ujar Lanny.
Lanny menyampaikan terima kasih, serta harapannya terhadap Program JKN. Ia mengaku takjub dengan gotong royong yang diterapkan dalam program tersebut, yang dinilainya sangat efektif membantu banyak orang. Ia menyadari bahwa proses penyembuhan ayahnya melibatkan peran banyak pihak. Selain pemerintah, peserta JKN yang tetap membayar iuran secara rutin meskipun masih sehat juga turut membantu.
“Tanpa disadari, banyak yang bergantung pada iuran yang dibayarkan secara rutin. Program JKN wajib tetap hadir di tengah masyarakat karena manfaatnya sangat besar. Sakit tidak ada yang tahu kapan datangnya dan tidak dapat diprediksi berapa biayanya. Oleh karena itu, memastikan kepesertaan JKN selalu aktif merupakan hal penting. Meski demikian, mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena itu, selalu jaga kesehatan diri dan keluarga,” ujarnya.
Sinergi BPJS Kesehatan, IDI, dan Dinkes Ambon Tingkatkan Pemahaman JKN bagi Generasi Muda
Ambon, Jamkesnews – BPJS Kesehatan Cabang Ambon kembali menggalakkan sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kepada generasi muda, kali ini bersama Pemuda Muhammadiyah. Sosialisasi ini juga melibatkan Dinas Kesehatan Kota Ambon dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Maluku sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Program JKN.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ambon, Harbu A. Hakim menyampaikan bahwa edukasi Program JKN penting untuk meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya jaminan kesehatan. Harbu menambahkan bahwa Program JKN merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Sosialisasi ini dilakukan agar generasi muda seperti Pemuda Muhammadiyah memahami Program JKN. Lebih baik lagi jika informasi ini diteruskan kepada kerabat dan keluarga. Program JKN juga memiliki semangat gotong royong. Peserta JKN yang sehat membantu peserta yang sakit dengan cara rutin membayar iuran. Program JKN merupakan salah satu program layanan kesehatan terbesar di dunia dan terus berkelanjutan hingga saat ini,” ujar Harbu, Senin (23/01).
Pada kesempatan yang sama, Ketua IDI Wilayah Maluku, M. Saleh Tualeka, menyampaikan komitmennya dalam menjaga mutu layanan kesehatan dalam pelaksanaan Program JKN. Menurutnya, IDI berperan penting dalam menjaga mutu layanan kesehatan serta memberikan masukan kebijakan agar regulasi yang diterapkan mengutamakan keselamatan pasien.
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Johan S. Morimarna, juga menyampaikan bahwa hingga Desember 2025, tingkat kepesertaan Program JKN di Kota Ambon telah mencapai 98,65 persen.
“Pemerintah Kota Ambon telah memenuhi target jumlah kepesertaan Program JKN. Namun, tingkat keaktifan peserta masih perlu ditingkatkan. Semoga dengan sinergi antarinstansi di Pemerintah Kota Ambon, hal ini segera terealisasi,” ucap Johan.
Di sisi lain, Ketua Pelaksana Kegiatan Focus Group Discussion, Tamrin Efruan, menyebut salah satu program unggulan yang dapat dimanfaatkan oleh Pemuda Muhammadiyah adalah skrining riwayat kesehatan. Ia juga mengatakan bahwa pihaknya pun telah mengisi skrining riwayat kesehatan sehingga dapat mengecek kondisi kesehatan secara mandiri. Ia juga berharap, para generasi muda semakin memahami manfaat Program JKN serta berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat luas.
“Kami dipandu langsung memanfaatkan Aplikasi Mobile JKN. Menurut saya, dengan adanya sosialisasi ini, kami dapat mengetahui manfaat aplikasi tersebut. Sangat bermanfaat karena bisa langsung mengubah fasilitas kesehatan, memiliki fitur kartu digital, bahkan skrining riwayat kesehatan untuk mengecek kondisi kesehatan secara mandiri,” ujarnya.
BPJS Kesehatan Ambon Kenalkan Program JKN hingga Pelosok Desa
Bula, Jamkesnews – Semangat menyebarkan informasi seputar Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus digencarkan BPJS Kesehatan Cabang Ambon. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ambon, Harbu A. Hakim, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyambangi sepuluh kabupaten/kota di Provinsi Maluku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi yang benar terkait program tersebut. Harbu menegaskan pentingnya sosialisasi ini sebagai upaya memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat.
“Sosialisasi ini merupakan salah satu wujud kepedulian terhadap masyarakat, khususnya peserta JKN. Dengan maraknya informasi yang menyimpang, kami perlu meluruskan agar tidak terjadi kekeliruan saat mengakses layanan kesehatan. Kegiatan ini rutin dilakukan sehingga diharapkan semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya Program JKN,” ungkap Harbu usai melakukan sosialisasi di Desa Kampung Baru, Teluk Waru, Kabupaten Seram Bagian Timur, Jumat (13/002).
Kepada masyarakat Desa Kampung Baru, Harbu menegaskan agar seluruh peserta JKN dapat memahami dan mengetahui status kepesertaannya. Ia menjelaskan bahwa peserta JKN terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan non-PBI yang terdiri atas Pekerja Penerima Upah (PPU) serta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau yang biasa dikenal sebagai peserta mandiri.
“Tidak hanya warga negara Indonesia, Program JKN juga mencakup warga negara asing sesuai regulasi yang berlaku,” jelas Harbu.
Ia menegaskan bahwa seluruh peserta, apa pun segmennya, dilayani dengan prosedur dan ketentuan yang sama tanpa diskriminasi. Oleh karena itu, Harbu mengimbau masyarakat untuk melaporkan apabila menemukan prosedur yang tidak sesuai.
“Kami menyediakan berbagai kanal layanan yang dapat digunakan oleh seluruh peserta JKN tanpa terkecuali. Semua akses telah dipermudah dan diharapkan tidak ada yang takut untuk melaporkan. Masukan dan saran dari peserta dapat membantu kami meningkatkan kualitas layanan,” ujar Harbu.
Sekretaris Desa Kampung Baru, Ismail Watuletan mengaku sangat terbuka menerima sosialisasi yang digelar BPJS Kesehatan Cabang Ambon. Menurutnya, Program JKN memiliki peran penting bagi masyarakat.
“Program JKN telah membantu banyak masyarakat, inilah mengapa kami sangat terbuka menerima kehadiran BPJS Kesehatan. Sakit tidak ada yang tahu kapan datangnya, sehingga penting untuk selalu memastikan keaktifan kepesertaan JKN. Melalui kesempatan ini, kami menyampaikan terima kasih atas kunjungannya. Kami berharap Program JKN tetap hadir di tengah masyarakat, memberikan perlindungan maksimal dengan kualitas pelayanan kesehatan yang baik,” ungkap Ismail.
Mira, salah satu masyarakat Desa Kampung Baru yang juga peserta JKN, turut memberikan apresiasi terhadap program tersebut.
“Kami telah merasakan manfaatnya. Mudah, cepat, dan setara merupakan hal yang kami terima. Menjadi peserta JKN merupakan anugerah karena hati menjadi tenang apabila diri dan keluarga telah terjamin. Jangan sampai terlambat, lindungi diri dan keluarga dari sekarang,” ungkap Mira.
Gandeng Kapal RS Nusa Waluya II, BPJS Kesehatan Hadirkan Layanan Kesehatan di Kepulauan Aru
Dobo, Jamkesnews – Sebagai wujud komitmen memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T), BPJS Kesehatan turut ambil bagian dalam menghadirkan layanan kesehatan bergerak melalui Kapal Rumah Sakit Nusa Waluya II di Kabupaten Kepulauan Aru. Pelayanan ini merupakan hasil kolaborasi antara BPJS Kesehatan, Yayasan Dokter Peduli, serta dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ambon, Harbu A Hakim, mengapresiasi Bupati Kepulauan Aru beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dan berbagai pihak yang terlibat. Harbu mengatakan bahwa pelayanan kesehatan melalui kapal bergerak dapat menjangkau peserta JKN yang berdomisili di daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat.
“Kerja sama lintas sektor ini menjadi kunci penting untuk menghadirkan solusi pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan dengan tantangan geografis yang kompleks seperti Kepulauan Aru. Pelayanan kapal bergerak ini merupakan upaya BPJS Kesehatan dalam meningkatkan aksesibilitas penjaminan pelayanan Program JKN bagi peserta,” ucap Harbu, Rabu (11/02).
Pada kesempatan tersebut, Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, menilai pelayanan kesehatan bergerak ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat di wilayah 3T. Kepulauan Aru masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia termasuk ketersediaan dokter spesialis, sehingga ia berharap pelayanan melalui kapal rumah sakit tersebut dapat dijadwalkan secara rutin dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Ia juga berharap agar masyarakat di daerah terpencil di Kabupaten Kepulauan Aru memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih mudah dan merata.
“Pelayanan kesehatan melalui Kapal Rumah Sakit Nusa Waluya II diharapkan mampu mendekatkan layanan medis kepada masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi geografis dan infrastruktur. Hal ini menjadi bukti bahwa BPJS Kesehatan bersama para pemangku kepentingan mendukung penuh keberlangsungan Program JKN di wilayah kepulauan,” ucap Timotius.
Timotius menyampaikan penguatan sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah serta mitra strategis seperti Yayasan Dokter Peduli dapat terus diwujudkan secara berkelanjutan demi menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif, adil, dan berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Koordinator Pelayanan Medis RSK Nusa Waluyo II, Rosa Yulise Putri, menyampaikan bahwa Kabupaten Kepulauan Aru menjadi salah satu tujuan Yayasan Dokter Peduli untuk memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.
“Kami hadir untuk menjangkau desa-desa terpencil, keterbatasan tenaga kesehatan, serta belum optimalnya ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata bagi masyarakat di wilayah kepulauan. Oleh karena itu, kami berharap kehadiran kapal bergerak ini semoga menjadi solusi dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ucap Rosa.
BPJS Kesehatan Hadir di Desa Jikumerasa, Mudahkan Akses Informasi dan Layanan JKN
Namlea Jamkesnews – Upaya penyebaran informasi terus dilakukan guna memperkaya pengetahuan masyarakat tentang Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kali ini BPJS Kesehatan Kabupaten Buru melaksanakan sosialisasi Program JKN menggandeng Puskesmas Sawa menyambangi Desa Jikumerasa, Kabupaten Buru, Kamis (12/02). Kepala BPJS Kesehatan Ambon, Harbu Hakim menerangkan sosialisasi rutin ini menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Sistem jemput bola merupakan sistem yang kami gunakan dengan mengunjungi langsung tempat peserta JKN tinggal, rutin kami lakukan kunjungan untuk menyebarkan informasi dan membuka layanan administrasi dengan tujuan mempermudah peserta JKN sehingga tidak perlu jauh-jauh mengunjungi tempat kami, selain itu untuk memastikan informasi tepat sasaran sehingga dapat diterapkan dengan baik,” ungkap Harbu.
Dalam kunjungannya Harbu menjelaskan alasan pentingnya program JKN bagi seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, masyarakat wajib terlindungi dengan Program JKN mengingat biaya pelayanan kesehatan yang terus mengalami kenaikan serta masalah ekonomi dan sosial yang akan terkena dampak apabila tiba-tiba jatuh sakit.
“Dengan menjadi peserta JKN tentunya tidak lagi khawatir memikirkan biaya,” ujar Harbu.
Harbu menambahkan Program JKN berjalan dengan sistem gotong royong, sehingga apabila sakit peserta JKN turut dibantu oleh peserta JKN yang sehat, melalui iuran yang rutin dibayarkan peserta JKN. (**)


