Karnaval Ogoh-Ogoh Perkuat Moderasi dan Toleransi Beragama di Ambon
April 11, 2026AMBON, fokusmaluku.com- Karnaval Ogoh- Ogoh yang digelar oleh umat Hindu di kota Ambon menyambut Tahun Baru Saka 1948/2026 bukan sekedar ritual keagamaan umat Hindu dalam merayakan hari Raya Nyepi melainkan juga menjadi simbol dalam memperkuat moderasi dan toleransi beragama di kota Ambon.
Kegiatan keagamaan yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata kota Ambon yang mengusung Tema: “Satu Bumi, Satu Keluarga”.itu berlangsung damai dan meriah disaksikan oleh warga masyarakat pada sejumlah ruas jalan di kota Ambon yang dipusatkan di depan Gong Perdamaian dunia, sehari sebelum perayaan Nyepi Rabu (18/03/2026)
Pawai ini dianggap sebagai simbol nyata kerukunan lintas iman, terutama karena dilaksanakan di tengah momentum menyambut Idul Fitri bagi umat Muslim di tahun 2026.
Masyarakat umum biasanya memadati jalanan untuk melihat atraksi patung raksasa tersebut sebagai hiburan budaya tahunan.
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa momentum berdekatan antara Nyepi dan Idulfitri merupakan simbol kuat keberagaman yang harmonis di Indonesia, khususnya di Maluku
“Ini merupakan momen yang sangat istimewa, karena dua hari besar keagamaan dirayakan hampir bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang kaya akan keberagaman, namun tetap mampu hidup dalam harmoni dan persaudaraan,” ujar Gubernur.
Dijelaskan, Nyepi dan Idulfitri memiliki nilai yang sejalan, yakni mengajarkan pengendalian diri, penyucian jiwa, serta membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. “Perbedaan keyakinan bukanlah pemisah, tetapi kekuatan yang memperkuat persatuan bangsa,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I., menegaskan bahwa rangkaian perayaan Nyepi merupakan bagian dari upaya memperkuat moderasi beragama dan persaudaraan antar umat beragama.
“Momentum ini menjadi sarana untuk memperkuat moderasi beragama serta mempererat persaudaraan antar umat beragama dan sesama manusia,” ungkapnya.
Menurutnya, pawai ogoh-ogoh yang menjadi bagian dari tradisi Nyepi memiliki makna mendalam sebagai simbol pembersihan diri dari sifat-sifat negatif, seperti keserakahan, kemarahan, dan egoisme.
“Ogoh-ogoh bukan sekadar tradisi budaya, tetapi memiliki makna spiritual sebagai refleksi diri manusia untuk membersihkan hati, menjernihkan pikiran, serta memulai kehidupan yang lebih baik,” jelasnya.
Kakanwil juga menekankan, berdekatannya Nyepi dan Idulfitri menjadi momentum penting bagi masyarakat Maluku untuk menunjukkan komitmen dalam menjaga toleransi dan kebersamaan.
“Kita ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah, tetapi menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Ketika umat Hindu menjalani Nyepi dengan perenungan, umat Islam merayakan Idulfitri dengan silaturahmi, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memperbaiki diri dan mempererat hubungan antar sesama,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan, memperkuat kerukunan, serta saling menghormati dalam menjalankan ibadah masing-masing. Dengan semangat kebersamaan, Kakanwil optimistis seluruh rangkaian perayaan keagamaan di Maluku dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kedamaian.
“Perayaan Nyepi di Ambon tahun ini tidak hanya menjadi refleksi spiritual bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat luas tentang pentingnya pengendalian diri, toleransi, dan harmoni sosial. Nilai-nilai tersebut dinilai sejalan dengan semangat Idulfitri yang menekankan kesucian hati, saling memaafkan, dan mempererat persaudaraan.” tutupnya
Dalam pawai tersebut, masyarakat Kota Ambon menyaksikan simbol Buto Ijo dan Buto Lari yang menjadi bagian dari ogoh-ogoh. Buto Ijo melambangkan nafsu yang tidak terkendali, seperti keserakahan, kemarahan, dan kekuasaan tanpa batas.
Sementara Buto Lari melambangkan ketidakdewasaan spiritual, ego yang besar, emosi yang mudah tersulut, serta kecenderungan menyalahkan orang lain.
Kedua simbol ini mengandung pesan moral bahwa konflik dalam kehidupan manusia sering kali berawal dari ketidakmampuan mengendalikan diri. Oleh karena itu, dalam tradisi Hindu, ogoh-ogoh tidak untuk dipuja, melainkan sebagai pengingat dan sarana introspeksi diri.
Sejumlah ruas jalan yang dilalui diantaranya Gong perdamaian dunia, jalan Pattimura, berlanjut ke jalan Ahmad Yani, Jalan Diponegoro, Tugu Trikora dilanjutkan ke jalan AY.Patty dan berakhir di Depan Gong Perdamaian Dunia. (Eda L)


