de Fretes : “Amboina Family” Wajib Pajak Dengan Tingkat Kepatuhan Tinggi di Ambon

de Fretes : “Amboina Family” Wajib Pajak Dengan Tingkat Kepatuhan Tinggi di Ambon

April 20, 2026 0 By admin

AMBON, fokusmaluku.com- Di tengah tantangan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, komitmen wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Ambon.

Salah satu contoh yang mendapat apresiasi adalah Amboina Family, yang dinilai sebagai wajib pajak dengan tingkat kepatuhan tinggi dan konsisten sejak awal menjalankan usahanya.

Komitmen tersebut bahkan telah terbangun sejak sebelum usaha tersebut berganti nama. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kewajiban perpajakan bukan sekadar formalitas, melainkan telah menjadi bagian dari prinsip dalam menjalankan usaha.

de Fretes saat diwawancarai fokusmaluku.com diruang kerjanya, Senin(20/04/2026) menyatakan,  pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap wajib pajak yang memiliki rekam jejak kepatuhan yang baik.

Menurutnya, menjaga hubungan dengan wajib pajak seperti ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk menciptakan ekosistem perpajakan yang sehat dan berkelanjutan.

“Ada wajib pajak yang benar-benar kita jaga. Dari awal sudah ada komitmen bersama untuk tetap patuh dan itu terus dipertahankan hingga sekarang,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan, kepatuhan pajak tidak semata-mata soal kewajiban administratif, melainkan mencerminkan kesadaran kolektif dalam membangun daerah. Wajib pajak, khususnya pelaku usaha di sektor restoran dan rumah makan, memiliki kontribusi besar dalam mendorong peningkatan PAD yang nantinya kembali digunakan untuk pembangunan dan pelayanan publik.

de Fretes berharap, Amboina Family dan wajib pajak lainnya yang telah menunjukkan kepatuhan tinggi dapat terus mempertahankan komitmen tersebut.

Ia menekankan, kontribusi ini bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau usaha semata, tetapi merupakan bentuk partisipasi aktif dalam pembangunan Kota Ambon.

“Ini tentang kesadaran bersama. Bagaimana kita, baik pemerintah maupun pelaku usaha, berjalan beriringan untuk membangun Kota Ambon ke depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Walau demikian, ia tidak menampik, bilamana masih terdapat sejumlah wajib pajak lainnya di kota ini yang belum sepenuhnya patuh. Namun demikian, pendekatan yang dilakukan pemerintah lebih mengedepankan sisi persuasif dan edukatif.

Hasilnya, tidak sedikit wajib pajak yang akhirnya datang dengan kesadaran sendiri untuk melaporkan dan memenuhi kewajiban mereka.

Pendekatan ini dinilai efektif dalam membangun kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat. Dengan komunikasi yang baik, wajib pajak tidak lagi melihat kewajiban pajak sebagai beban, melainkan sebagai kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.

 

Dalam situasi ekonomi yang menantang seperti saat ini, menjaga konsistensi dalam kepatuhan pajak tentu bukan hal yang mudah. Namun, de Fretes tetap optimistis bahwa semangat kebersamaan yang telah terbangun selama ini dapat terus dipertahankan.

 

Ia berharap kondisi ekonomi tidak menjadi alasan untuk mengurangi komitmen, melainkan justru menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun daerah.

 

“Mudah-mudahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit ini, tidak melunturkan niat kita untuk tetap menjaga komitmen bersama. Semua ini demi Ambon yang lebih baik ke depan,” katanya.

 

Sebagai penutup, ia kembali mengingatkan pentingnya menghidupkan nilai kebersamaan yang telah menjadi identitas masyarakat Kota Ambon, sebagaimana tertuang dalam tagline besar daerah ini, “Beta par Ambon, Ambon par samua.”

Tagline tersebut, menurutnya, bukan sekadar slogan, melainkan semangat kolektif yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dalam hal kepatuhan membayar pajak sebagai salah satu fon

dasi pembangunan kota. (Eda L)