My Home Indonesia Gandeng Guru SMP/MTs Gelar Webinar PJJ
Oktober 18, 2020AMBON,FM,- My Home Indonesia menggandeng Pemerintah kota Ambon dalam hal ini dinas Pendidikan menyelenggarakan Webinar pembelajaran jarak jauh yang digagas dalam program my Edu. Webinar tersebut dilakukan secara virtual, diikuti oleh ratusan guru dan kepsek tingkat SMP/MTs, Sabtu (17/10/2020)
Webinar tersebut dihadiri oleh, Wali kota Ambon, Ketua Tim PKK kota Ambon, Fasilitator umum My Edu, dibawah tema ” tantangan dan peluang pembelajaran jarak jauh, menghadirkan juga pemateri handal yakni, Ester Kurniawati S.S M.Pd, yang juga adalah seorang konsultan pendidikan.
Webinar ini diawali dengan pengantar kata pembuka dari Dr.Gede Widiada, dilanjutkan dengan sambutan singkat dari Fasilitator Umum My home Indonesia, Dr.Daniel Pandji.
Dikatakan, my Edu sendiri adalah bentukan dari my home Indonesia yang memiliki visi mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan berbasis teknologi digital
Visi besar my edu adalah melakukan proses pendampingan edukasi bagi siswa dan orang tua murid untuk memperlengkapi para pelajar dan bersinergi dengan lembaga yang memiliki sarana dan prasarana teknologi untuk menunjang kelancaran operasional.
Akuinya, ada sesuatu hal luar biasa yang diamati dalam dua kali Webinar yang dilakukan bagi guru PAUD maupun SD/MI di kota Ambon, dirinya menilai ada percepatan yang luar biasa dimana sedang mengejar ketertinggalan dari pembelajaran jarak jauh, meskipun bagi sebagian orang ini adalah hal yang asing.
“Akan menjadi tantangan bagi kita yang tidak mengerti, tetapi juga menjadi peluang bagi orang mau ingin belajar,” ucapnya.
Tambahnya, Dari 1984 tenaga pendidik di kota Ambon menyatakan, 67,4 persen memiliki hambatan saat mengajar, ada juga 90,9 persen yang merasa pembelajaran jarak jauh justru tidak efektif. Sementara alasan karena sulit memberikan pengawasan 76,5 persen dan sulit memberikan penilaian sebanyak 50,51 persen. Sulit memberikan penilaian tugas 40,7 persen dan sulit memberikan pembimbingan kepada siswa sebanyak 72,4 persen bahkan 85,4 persen pengajar mengakui, pembelajaran jarak jauh membatasi kegiatan belajar.
“Jujur ini diluar dugaan saya, respon dari para pengajar di kota Ambon akan menjadi acuan dan study bagaimana car mengatasi hambatan yang terjadi,” bebernya.
Batasan tertinggi adalah 76,6 persen pengajar mengaku dibatasi secara teknis sementara 54,9 persen merasa dibatasi secara kreatifitas namun saat masuk dalam virtual seperti ini justru kreatifitas sangat bertambah sekian ribu persen.
“Kami terus memberikan motivasi bagi praktisi pendidikan dan pengajar di kota-kota maupun di desa meskipun harus mengajar hanya dalam satu kelas saja, bahkan pelaku ekonomi juga membutuhkan edukasi seperti ini, ini solusi terbaik bagi pengajar melalui teknologi sebagai peluang besar bagi guru dan terus bergerak hasilkan jutaan pendidik di daerah yang teredukasi.
Kesempatan itu juga, Koordinator Bidang Penilaian, Direktorat SMP, Ditjen PAUD,Dikdas,dan Dikmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dra.Ninik Purwaningsih Setiorini menjelaskan, akibat pandemi covid 19 memaksa seluruh aspek kehidupan berpindah pada tatanan baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan selama itu pula aktifitas belajar berpindah baik secara Daring maupun luring.
Kegagalan dalam rancangan belajar jarak jauh akan berdampak pada kehilangan kompetensi belajar yang apabila kondisi ini berkepanjangan dan tidak ada intervensi khusus, dikuatirkan akan lahir generasi kerdil dalam kompetensi pengetahuan, sikap maupun keterampilan.
“Dampak buruk PJJ yang tidak terkendali secara baik akan menimbulkan stres,bosan, putus sekolah diantara anak didik, inilah tantangan nyata yang harus kita jawab,” ucapnya.
Pandemi juga telah mendorong lahirnya kebijakan baru dalam dunia pendidikan berupa relaksasi.
Upaya Kemendikbud adalah penyediaan platform
Yang dapat digunakan sebagai sumber belajar jarak jauh, penyesuaian orientasi tujuan pembelajaran yang tidak hanya mengejar ketuntasan kurikulum melainkan proses pembelajaran yang bermakna bagi siswa serta kebijakan penyederhanaan kurikulum yang dimaksudkan agar proses pembelajaran tetap dapat berlangsung meskipun dalam kondisi darurat yang penuh keterbatasan.
Tambahya, kondisi pandemic memang tidak mudah, itulah tantangan yang dihadapi tetapi kita harus bisa mengubah tantangan menjadi peluang.
Pertama, peluang untuk mengembangkan kreatifitas, teknologi tidak akan ada artinya tanpa kreatifitas karena itu kita ditantang bagaimana memaknainya agar memiliki daya yang maksimum.
Kedua mengubah tantangan menjadi peluang dengan mengerahkan seluruh potensi sumber daya yang ada, memfungsikan kembali tiga pusat pendidikan baik sinergitas pemerintah sekolah, masyarakat harus dilakukan dalam kondisi darurat covid saat ini termasuk peran serta orang tua dan lembaga masyarakat peduli pendidikan.
Bagi guru, jawablah tantangan ini sebagai peluang untuk berkolaborasi antar sesama kolega baik melalui MGMP sekolah maupun tingkat kota Ambon.
“Jadilah guru pembelajar, ciptakan budaya belajar dikalangan para guru,” tuturnya.
Diharapkan, bukan hanya sampai pada Webinar tetapi ada pendampingan secara teknis yang berkelanjutan kepada guru dan sekolah terkait dengan tindak lanjut setelah mengikuti Webinar yang terlaksana oleh My Home dan my Edu.
Wali kota Ambon, Richard Louhenapessy mengakui, Pemkot Ambon bekerjasama dengan My Edu dan my home tentang pentingnya persiapan SDM kedepan yang dimulai dari pelaku pendidikan.
Louhenapessy menyatakan keseriusannya dalam kegiatan ini lantaran seluruh alasan pelaksanaan PJJ yang dilakukan oleh guru ternyata 68,32 persen berpendapat lebih enak tidak belajar secara online, 8,38 persen berpendapat lebih enak dengan online sementara 22,35 persen mengaku online dan offline sama saja.
Ditanya soal kemanpuan menguasai IT 0,99 persen guru mengakui mahir, 71,99 persen sedang, dan 17,02 persen menjawab sedikit, dengan demikian dapat disimpulkan ketidakmahiran guru dalam menguasai IT secara baik.
Jawaban yang sangat memperihatinkan dirinya adalah jawaban 730 guru menjawab pembelajaran jarak jauh tidak efektif, ini tantangan yang dihadapi
“Tantangan kita kedepan akan semakin nampak, kita boleh saja tidak mau merubah diri tetapi perubahan teknologi digital akan terus mengejar kita kalau kita tidak mampu beradaptasi dengan teknologi kita akan digilas dan tertinggal akibat kemajuan ini,” bebernya.(FM-08)


