Pesparani Wujud Aktualisasi Religi Musik Khatolik

Pesparani Wujud Aktualisasi Religi Musik Khatolik

Juni 10, 2018 0 By admin

AMBON,FM.com.-Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) merupakan kegiatan lomba banding nyanyi yang dilakukan untuk menghimpun potensi-potensi seni khususnya khususnya seni musik yang bernafaskan Katholik yang diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katholik Nasional (LP3KN) melibatkan gereja-gereja Katholik. Hal ini diungkapkan Plt. Gubernur Maluku, Zeth Sahuburua dalam sambutannya saat launching Pesparani tingkat nasional di kota Ambon (10/06) malam.

Sahubutua menjelaskan, Pesparani menjadi sebuah pesta iman yang merupakan bentuk Ibadah Syukur dan puji-pujian kepada Tuhan.

Olehnya itu, pelaksanaan PESPARANI harus dipersiapkan sebaik-baiknya tidak sekedar berlomba dan bernyanyi tetapi harus diarahkan kepada tujuan utama yaitu memuliakan nama Tuhan melalui tingkah laku dan kerjasama yang mencerminkan persekutuan umat Katholik.

” Penyelenggaraan Pesparani Nasional di Kota Ambon tahun ini, diharapkan tidak terjebak pada peristiwa seremonial saja tetapi sejatinya dapat nenginternalisasi dan mengaktualisasi nilai-nilai religiusitas yang ada dalam setiap puji-pujian yang dinyanyikan,” ucapnya.

Selain itu juga menjadi media untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta momentum untuk menunjukan kepada dunia bahwa Maluku bukan lagi daerah konflik atau laboratorium konflik tetapi telah bertransformasi menjadi laboratorium kerukunan umat beragama terbaik di Indonesia.

Kerukunan hidup beragama begitu terasa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh adanya dukungan umat beragama lain misalnya partisipasi umat Kristiani pada pelaksanaan MTQ Nasional ke XXIV tahun 2012 juga partisipasi umat Islam pada pelaksanaan  Pesparawi Nasional ke XI tahun 2015.

Untuk itu momentum PESPARANI Nasional I di Kota Ambon, seluruh umat beragama di Maluku bertekad berpartisipasi aktif mensukseskan perhelatan akbar ini.
Acara PESPARANI bukan hanya milik umat Katholik tetapi menjadi milik seluruh umat beragama di Maluku.
Melalui momentum PESPARANI akan ditunjukan bagaimana sehatusnya peradaban agama dibangun.

Persaudaraan di Maluku ibaratnya sebuah simfoni, ada tabuhan tifa, totobuang dan hadrat. Ada lantunan suling bambu, tahuri dan ukulele yang syairnya dinyanyikan seluruh masyarakat Maluku, simfoni ini diiringi orkestra besar di Tanah Ambon.
Semua cita-cita, keinginan dan harapan ini tertuang dalam moto, tema, sub tema serta logo PESPARANI Nasional I tahun 2018.
“Pesparani ini dapat berjalan sukses sebagaimana trisukses yang telah dicanangkan yakni, sukses penyelenggaraan, prestasi dan pertanggungjawaban,” Demikian Sahuburua.(EL)