Kualitas Kredit Korporasi Membaik

Juli 6, 2018 0 By admin

AMBON,FM.-Dari sisi resiko kredit korporasi di Maluku terpantau membaik meskipun pertumbuhan penggunaannya relatif lebih terbatas.Kondisi ini terlihat dari kinerja LU Perdagangan, LU Konstruksi, dan LU Administrasi Pemerintahan yang mampu tumbuh menguat dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesi Provinsi Maluku, Bambang Pramasudi melalui release yang diterima fokusmaluku.com, Jumat.

Menurut Pramasudi, pada triwulan I 2018, sektor utama di daerah ini tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja Lapangan Usaha (LU) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sedikit melambat dibandingkan triwulan IV 2017
Tambahnya, Kinerja korporasi di Maluku dipengaruhi oleh perkembangan sektor eksternal maupun domestik. Dari sisi eksternal, faktor yang mempengaruhi adalah pemulihan perekonomian global yang diperkirakan terus berlanjut, diikuti dengan tetap tingginya harga komoditas.

Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) membaik ditopang oleh peningkatan investasi dan tingkat konsumsi yang terjaga. Perekonomian Uni Eropa secara perlahan juga membaik yang didukung oleh konsumsi dan ekspor. Demikian pula dengan kondisi negara-negara di Asia.

Perekonomian Jepang dan Tiongkok yang membaik ditopang oleh perbaikan kinerja industri dan ekspor yang kuat di tengah kebijakan rebalancing secara gradual. India juga menunjukkan perbaikan ekonomi yang stabil seiring dengan meningkatnya perkembangan teknologi dan informasi secara global.

Namun demikian, sejumlah risiko terhadap perekonomian global, seperti normalisasi kebijakan moneter dan faktor geopolitik tetap perlu diwaspadai. Dari sisi domestik, stimulus fiskal oleh pemerintah untuk pembangunan proyek infrastruktur berpotensi mendorong aktivitas perekonomian, khususnya investasi. Selain itu, adanya persiapan penyelenggaraan Pilkada serentak di Maluku selama triwulan I 2018 juga dinilai mampu meningkatkan aktivitas ekonomi. Meskipun demikian, masih terdapat tantangan yang bersumber dari terbatasnya konsumsi masyarakat dan kinerja ekspor yang belum kuat.

Pada triwulan I 2018, pertumbuhan kredit korporasi tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Melambatnya pertumbuhan kredit korporasi disertai dengan menurunnya pangsa kredit korporasi terhadap total kredit di Maluku dari 17,51% dengan nominal sebesar Rp2,22 triliun di triwulan sebelumnya menjadi 15,63% dengan nominal sebesar Rp1,90 triliun. Meskipun tingkat suku bunga kredit korporasi sedikit menurun dari 13,17% menjadi 13,13%, baik Kredit Modal Kerja (KMK) maupun Kredit Investasi (KI) juga mengalami penurunan.

Penurunan kredit korporasi pada triwulan I 2018 dipicu oleh menurunnya pertumbuhan KMK, yang memiliki pangsa 72,26% dari total kredit korporasi, dari 34,65% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 27,42% (yoy). Secara sektoral, penurunan pertumbuhan KMK berasal dari penurunan pertumbuhan kredit pada LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dan LU Perdagangan Besar dan Eceran. Penurunan pertumbuhan KMK pada LU Perdagangan Besar dan Eceran dipengaruhi oleh penurunan konsumsi masyarakat sebagai efek cooling down setelah tingginya konsumsi pada periode Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2017 di triwulan IV 2017. Kondisi tersebut tercermin dari menurunnya pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Konsumsi Rumah Tangga pada triwulan I 2018 menjadi 3,06% (yoy) setelah triwulan sebelumnya tumbuh 6,28% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan KMK pada LU Konstruksi tercatat meningkat selama triwulan I 2018 sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur proyek strategis di Maluku.

Penurunan kredit korporasi pada triwulan I 2018 juga dipicu oleh menurunnya pertumbuhan Kredit Investasi (KI), yang memiliki pangsa 27,74% dari total kredit korporasi, dari 86,33% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 27,90% (yoy). Secara sektoral, penurunan pertumbuhan KI berasal dari penurunan pertumbuhan KI pada ketiga pangsa terbesar KI, yakni LU Pertambangan dan Penggalian, LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan LU Real Estate, Usaha Persewaan, dan Jasa Perusahaan. Kebutuhan investasi untuk aktivitas tambang di beberapa wilayah di Maluku yang sebagian telah terpenuhi dari triwulan sebelumnya, menjadi faktor pemicu menurunnya KI di LU Pertambangan dan Penggalian. Penurunan KI pada LU Perdagangan Besar dan Eceran dipengaruhi oleh penurunan subsektor penjualan mobil, subsektor penjualan suku cadang dan aksesoris sepeda motor, dan subsektor perdagangan cengkeh. Sementara itu, penurunan KI pada LU Real Estate, Usaha Persewaan, dan Jasa Perusahaan, dipicu oleh kebutuhan ekspansi usaha yang belum meningkat seiring dengan permintaan konsumen yang cenderung stabil

Ke depan, Lanjut Pramasudi, kinerja korporasi Maluku secara keseluruhan tahun 2018 diperkirakan masih tetap terkendali di tengah dinamika perkembangan sektor eksternal maupun domestik. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku senantiasa memantau kondisi stabilitas sistem keuangan termasuk sektor korporasi di Maluku dan siap berkoordinasi dan bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Maluku dan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) maupun instansi terkait termasuk pelaku usaha dan perbankan di Provinsi Maluku. ( FM-29)